Jakarta, Technologue.id – Pembahasan soal seksualitas masih sering dibumbui berbagai mitos yang beredar dari mulut ke mulut. Mulai dari anggapan posisi tertentu saat berhubungan seksual bisa mencegah kehamilan, masturbasi dapat menyebabkan mandul, hingga kondisi selaput dara yang dianggap bisa menentukan status seksual seseorang. Masalahnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar medis yang kuat.
Beberapa mitos bahkan dapat membuat seseorang salah mengambil keputusan terkait kesehatan reproduksi. Lantas, mana yang sekadar mitos dan mana yang memang memiliki dasar ilmiah? Berikut penelusuran lengkapnya berdasarkan penjelasan Planned Parenthood, WHO, Cleveland Clinic, dan NHS.
Mitos: Berhubungan Seks Sambil Berdiri Bisa Cegah KehamilanAnggapan ini mungkin terdengar unik, tetapi masih ada yang percaya gravitasi akan membuat sperma sulit mencapai sel telur. Faktanya, posisi tubuh tidak bisa dijadikan metode kontrasepsi yang andal. Planned Parenthood menjelaskan hubungan seksual dalam posisi berdiri tidak mencegah kehamilan sama sekali.
Hal yang sama berlaku untuk melompat-lompat setelah berhubungan seksual, membilas vagina, atau melakukan hubungan seksual di dalam air. Kehamilan dapat terjadi ketika sperma masuk ke vagina dan bertemu dengan sel telur. Jika ingin mencegah kehamilan, diperlukan metode kontrasepsi yang memang dirancang untuk tujuan tersebut.
Mitos: Membilas Vagina Setelah Seks Cegah HamilAda anggapan mencuci bagian dalam vagina menggunakan air, sabun, atau cairan tertentu setelah berhubungan seksual dapat "membersihkan" sperma. Faktanya, cara tersebut tidak dapat diandalkan untuk mencegah kehamilan. Menurut Planned Parenthood, membilas atau douching setelah hubungan seksual tidak menghilangkan risiko kehamilan.
Bahkan, praktik douching dapat menimbulkan masalah kesehatan tertentu dan bukan merupakan metode kontrasepsi. Jika hubungan seksual tanpa perlindungan menimbulkan kekhawatiran mengenai kehamilan, langkah yang tepat adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Diskusikan pilihan kontrasepsi darurat atau pemeriksaan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Baca Juga:
Masturbasi termasuk salah satu topik yang paling banyak dikelilingi mitos di masyarakat. Ada yang mengaitkannya dengan kemandulan, berkurangnya jumlah sperma, hingga berbagai gangguan kesehatan lainnya. Faktanya, tidak ada bukti bahwa masturbasi menyebabkan infertilitas pada pria maupun wanita.
Planned Parenthood menyebut masturbasi tidak menyebabkan penurunan kemampuan seseorang untuk memiliki anak. Cleveland Clinic juga mencatat berbagai mitos seperti masturbasi menyebabkan infertilitas, disfungsi ereksi, atau penurunan jumlah sperma tidak didukung bukti medis. Masturbasi sendiri dianggap sebagai aktivitas seksual yang normal.
Namun, iritasi kulit dapat terjadi jika dilakukan terlalu kasar atau menyebabkan gesekan berlebihan. Jadi, yang perlu diperhatikan bukan aktivitasnya, melainkan cara melakukannya agar tidak menimbulkan cedera.
Mitos: Masturbasi Selalu Berbahaya bagi KesehatanSebaliknya, ada pula anggapan bahwa masturbasi merupakan aktivitas yang pasti merusak tubuh. Faktanya, masturbasi pada umumnya merupakan aktivitas seksual yang normal dan aman dilakukan secara pribadi. Menurut Planned Parenthood, masturbasi tidak menyebabkan kebutaan, gangguan mental, jerawat, pertumbuhan terhambat, maupun kerusakan organ genital.
Aktivitas ini juga tidak menyebabkan seseorang "kehabisan" kemampuan untuk mengalami orgasme. Bagi sebagian orang, masturbasi dapat membantu mengurangi ketegangan, membuat tubuh lebih rileks, dan membantu tidur. Frekuensi setiap orang berbeda, dan tidak ada angka universal yang menentukan seseorang "terlalu sering" masturbasi.
Masalah baru perlu diperhatikan apabila kebiasaan tersebut sampai mengganggu pekerjaan, sekolah, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari. Jadi, bukan frekuensinya semata yang menjadi masalah, melainkan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Mitos: Selaput Dara Buktikan Riwayat Seksual
Ini merupakan salah satu mitos yang memiliki dampak sosial cukup besar. Selaput dara atau hymen kerap dianggap sebagai "bukti" apakah seorang perempuan pernah melakukan hubungan seksual. Faktanya, kondisi hymen tidak dapat digunakan untuk membuktikan riwayat hubungan seksual seseorang.
WHO bersama lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa lainnya menegaskan bahwa apa yang disebut "virginity testing" tidak memiliki dasar ilmiah. Tidak ada pemeriksaan yang dapat membuktikan secara medis apakah seorang perempuan pernah melakukan hubungan seksual. Penampilan hymen juga bukan indikator yang dapat diandalkan untuk menentukan hal tersebut.
Artinya, anggapan bahwa perdarahan pada hubungan seksual pertama atau kondisi hymen tertentu merupakan "bukti" status seksual seseorang tidak dapat dijadikan kesimpulan medis. Status seksual seseorang tidak bisa ditentukan hanya dengan melihat hymen.
Mitos: Pil KB Membuat Kesuburan Hilang PermanenKontrasepsi hormonal, termasuk pil KB, juga tidak lepas dari berbagai kekhawatiran. Salah satunya adalah anggapan bahwa penggunaan pil KB dalam jangka panjang akan membuat seseorang kehilangan kesuburan secara permanen. Faktanya, WHO menyebut kesuburan dapat kembali dengan cepat setelah penggunaan pil kontrasepsi dihentikan.
Pil kontrasepsi oral tersedia dalam beberapa jenis, termasuk pil kombinasi yang mengandung estrogen dan progestin serta pil yang hanya mengandung progestin. Keduanya tidak menyebabkan penundaan permanen terhadap kembalinya kesuburan setelah dihentikan. Namun, tidak semua metode kontrasepsi cocok untuk setiap orang.
Kondisi kesehatan dan faktor individual tetap perlu dipertimbangkan bersama tenaga kesehatan. Pil KB bukan penyebab kemandulan permanen, tetapi pemilihannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pengguna.
Mitos: Kondom Hanya Berguna Cegah KehamilanSebagian orang masih menganggap kondom hanya berkaitan dengan kontrasepsi. Padahal, manfaatnya tidak berhenti pada pencegahan kehamilan. Faktanya, kondom juga membantu mengurangi risiko penularan infeksi menular seksual (IMS).
WHO menjelaskan bahwa kondom merupakan satu-satunya metode kontrasepsi yang juga memberikan perlindungan terhadap IMS, termasuk HIV. NHS juga menyebut penggunaan kondom dengan benar setiap kali berhubungan seksual membantu mencegah kehamilan sekaligus mengurangi risiko IMS. Meski demikian, kondom tidak memberikan perlindungan absolut terhadap seluruh jenis infeksi dalam semua situasi.
Cara penggunaan yang benar dan konsisten tetap penting diperhatikan. Kondom memiliki dua fungsi penting, yaitu membantu mencegah kehamilan dan mengurangi risiko IMS.
Jangan Biarkan Mitos Menentukan Keputusan KesehatanSeksualitas merupakan bagian dari kesehatan manusia yang masih sering dibicarakan berdasarkan cerita dari teman, media sosial, atau informasi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Padahal, tidak semua informasi tersebut memiliki dasar ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Di era digital, penyebaran informasi keliru semakin cepat melalui berbagai platform.
Edukasi seksual yang akurat membantu seseorang memahami tubuh, hubungan, batasan, kontrasepsi, serta risiko kesehatan secara lebih rasional. WHO juga menekankan pentingnya informasi mengenai seksualitas yang akurat secara ilmiah dan sesuai usia untuk membantu masyarakat mengoreksi miskonsepsi dan mengambil keputusan yang lebih terinformasi.
Jika mengalami keluhan seperti nyeri pada organ reproduksi, perdarahan yang tidak biasa, gangguan fungsi seksual, kekhawatiran mengenai kehamilan, atau kemungkinan terpapar IMS, jangan hanya mengandalkan informasi dari internet. Konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter, bidan, atau tenaga kesehatan yang kompeten agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.