Jakarta, Technologue.id – Proses club fitting golf ternyata bisa belajar dari teknik lemparan pitcher bisbol Jepang. Konsep ritme dan timing yang diajarkan di Jepang dinilai relevan untuk menemukan shaft golf yang tepat bagi setiap pemain.
Dalam episode terbaru podcast Fully Equipped dari GOLF, dua pakar fitting, Johnny Wunder dan Jake Morrow, membahas pendekatan unik ini. Mereka menjelaskan bagaimana pemain golf bisa mendapatkan hasil fitting yang lebih optimal dengan memahami ritme alami tubuh.
Menurut Wunder, teori lama menyebut bahwa pemain yang berjalan cepat biasanya memiliki tempo ayunan yang lebih cepat. Sementara itu, pemain yang berjalan lambat cenderung memiliki ayunan yang lebih halus dan terkontrol.
Wunder mengambil contoh Nick Price sebagai pemain dengan gerakan cepat, dan Fred Couples sebagai pemain dengan ayunan yang mulus. Kedua gaya ini membutuhkan pendekatan fitting yang berbeda, terutama dalam pemilihan shaft.
Baca Juga:
Wunder kemudian mengaitkan konsep ini dengan cara pitcher bisbol Jepang diajarkan melempar bola. Ia menjelaskan bahwa pelempar Jepang diajarkan untuk melakukan pelepasan penuh ke satu arah tanpa ada gaya yang menahan.
“Jika Anda melihat pitcher Jepang melempar bola, itu adalah pelepasan penuh ke satu arah dan pelepasan penuh ke arah lain,” kata Wunder. “Tidak ada gaya yang membatasi. Tidak ada torsi.”
Menurut Wunder, alasan utama teknik ini diajarkan adalah karena lebih ramah bagi tubuh. Tubuh manusia lebih mudah mengulangi gerakan jika tidak ada gaya lawan yang harus dilawan.
Prinsip yang sama berlaku dalam golf, khususnya dalam fitting driver. Pemain golf bisa menemukan ritme dan timing optimal dengan stik yang tepat, sehingga ayunan bisa lebih konsisten dan mudah diulang.
Morrow menambahkan bahwa proses fitting harus dimulai dengan mengidentifikasi ayunan terbaik dari seorang pemain. Data dari ayunan optimal inilah yang kemudian digunakan untuk mencocokkan spesifikasi stik.
“Proses mencari tahu ayunan yang tepat adalah apa yang sedang dikejar Johnny saat ini,” ujar Morrow. “Mendefinisikan apa itu ayunan golf yang baik, lalu masuk ke fitting dengan mengetahui data itu.”
Ia menekankan bahwa mencocokkan data fitting dengan data ayunan menjadi langkah penting ke depan. Tanpa pemahaman ini, pemain bisa mendapatkan stik yang cocok di fitting, tapi tidak optimal di lapangan.
Masalah yang sering terjadi adalah pemain memukul stik dengan baik saat fitting, tapi ayunan yang digunakan belum tentu yang terbaik. Akibatnya, saat bermain di lapangan, ayunan berubah dan hasilnya mengecewakan.
Dengan memahami ayunan optimal untuk tubuh, pemain bisa lebih yakin bahwa ayunan yang sama akan terulang di lapangan. Konsistensi ini menjadi kunci untuk mencetak skor yang lebih baik.
Teknologi fitting modern, seperti yang tersedia di simulator golf interaktif, bisa membantu pemain merekam data ayunan secara akurat. Data ini kemudian dianalisis untuk menentukan shaft, flex, dan spesifikasi lain yang paling sesuai.
Pendekatan yang lebih personal dalam fitting ini diyakini akan semakin populer di kalangan pegolf amatir. Bukan hanya pemain pro yang butuh fitting, pemain biasa pun bisa merasakan manfaatnya.
Dengan stik yang tepat, setiap pemain bisa menemukan ritme alami seperti pitcher Jepang. Ayunan menjadi lebih efisien, konsisten, dan tentunya lebih menyenangkan.
Untuk informasi lebih lanjut tentang tren fitting dan peralatan golf terbaru, kunjungi artikel petualangan golf dari pegolf Indonesia yang menginspirasi.