Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Binance Diduga Diretas, Kerugian Capai Rp6,3 Miliar Dolar
SHARE:

Jakarta, Technologue.id — Bursa kripto Binance dilaporkan menjadi korban serangan siber yang mengakibatkan estimasi kerugian mencapai 6,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp102 triliun. Kabar ini pertama kali dilaporkan The New York Times dan langsung mengguncang industri aset digital global.

Jika angka tersebut akurat, insiden ini akan menjadi rekor pencurian kripto terbesar sepanjang sejarah. Nilainya jauh melampaui peretasan bursa Bybit senilai 1,5 miliar dolar AS pada tahun lalu.

Pihak Binance menyatakan akan menanggung seluruh kerugian yang dialami pengguna. Perusahaan menegaskan dana nasabah tetap aman dan akan diganti menggunakan SAFU (Secure Asset Fund for Users) serta kas internal perusahaan.

"Estimasi total dampak sekitar 6,3 miliar dolar AS, dan Binance telah bekerja sama dengan mitra blockchain untuk membekukan aset terdampak, dengan sekitar 3 miliar dolar AS berhasil dibekukan on-chain sejauh ini," tulis perusahaan dalam pernyataan resmi di situsnya.

Meski menjamin pengembalian dana, Binance sempat menangguhkan sementara layanan penarikan atau withdrawal. Perusahaan beralasan penangguhan itu dilakukan untuk keperluan "perombakan keamanan", sementara setoran atau deposit dinyatakan berjalan normal.

Langkah pembekuan aset turut melibatkan sejumlah platform stablecoin besar. Tether melaporkan telah membekukan 1,5 miliar dolar AS dana terkait serangan, sementara Circle membekukan sekitar 800 juta dolar AS.

Pendiri Binance, Changpeng Zhao, melalui akun X-nya menyatakan dana pengguna aman. Ia mengapresiasi respons cepat Tether dan Circle yang masing-masing membekukan sekitar 971 juta dolar AS dan 823 juta dolar AS.

"Saya tidak lagi mengelola Binance, tetapi sebagai pemegang saham, saya berharap semua dana pengguna akan sepenuhnya diganti," ujar pria yang akrab disapa CZ tersebut.

Dari hasil investigasi awal, Binance menduga serangan bermula dari laptop seorang insinyur DevOps yang telah dikompromikan. Perangkat tersebut diduga memungkinkan penyerang mengakses sebuah kontainer layanan dan mengirimkan transaksi penarikan yang tidak sah.

Sejumlah laporan mengarahkan tuduhan kepada Korea Utara sebagai aktor di balik insiden ini. Perusahaan riset keamanan TRM Labs menuding kelompok peretas elit Korea Utara, TraderTraitor, sebagai pelaku berdasarkan intelijen on-chain dan off-chain yang kuat.

TRM Labs menyatakan penilaian tersebut dibuat dengan "keyakinan tinggi" dan terus melacak pergerakan dana melalui Beacon Network, jaringan yang memantau kejahatan kripto secara real-time. Pola serangan seperti ini memang bukan hal baru dalam dunia keamanan siber.

Sebelumnya, sejumlah insiden serupa juga sempat mencuat, termasuk dugaan pencurian kripto yang dikaitkan dengan aktor dari Korea Utara. Bahkan, ada laporan mengenai penggunaan AI sebagai senjata baru dalam kejahatan siber.

Skala peretasan ini dinilai sangat besar dan mengejutkan komunitas kripto. Peneliti senior HashKey Group, Tim Sun, menilai insiden ini berpotensi menekan selera risiko investor global.

"Hal ini dapat lebih jauh meredam selera risiko dan mendorong investor menilai ulang keamanan aset yang disimpan di bursa terpusat, termasuk risiko pihak lawan, solvabilitas, dan likuiditas," kata Tim Sun kepada Reuters.

Di sisi lain, Binance memiliki rekam jejak regulasi yang pelik. Pendirinya, Changpeng Zhao, mengaku bersalah atas tuduhan kejahatan pada 2023 karena gagal mencegah pencucian uang, namun mendapat pengampunan dari Donald Trump pada 2025.

Perusahaan juga diketahui memiliki hubungan bisnis dengan World Liberty Financial, entitas kripto milik keluarga Trump. Kasus peretasan ini pun menambah daftar panjang tantangan keamanan yang dihadapi bursa kripto terpusat di tengah meningkatnya pencurian kredensial di sektor keuangan digital.

SHARE:

Osaka Tampilkan Ekosistem Fintech di Singapore FinTech Festival 2026

SMK Nusantara dan MAN 1 Sukabumi Juara AXIS Nation Cup 2026