Jakarta, Technologue.id - Indonesia tengah menikmati bonus demografi, namun jendela kesempatan itu diproyeksikan semakin menyempit. Perubahan struktur penduduk membuat persiapan menghadapi masyarakat menua menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda lagi.
Riset DBS Foundation bertajuk "Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?" mengungkapkan sekitar 69 persen penduduk Indonesia berada di kelompok usia produktif 15-65 tahun pada 2025. Namun, komposisi tersebut diproyeksikan berubah seiring menurunnya tingkat fertilitas dan meningkatnya harapan hidup.
Data riset menunjukkan total fertility rate (TFR) Indonesia turun dari 3,11 anak per perempuan pada awal 1990-an menjadi 2,13 pada 2024. Angka itu diproyeksikan kembali merosot menjadi 1,97 pada 2045 mendatang.
Pada saat bersamaan, proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai sekitar 12 persen pada 2025. Jumlah itu diproyeksikan menembus 20 persen pada 2045, menempatkan Indonesia dalam fase transisi menuju masyarakat menua.
Perubahan demografi ini tidak hanya soal bertambahnya jumlah lansia. Keluarga yang semakin kecil berarti jumlah anggota keluarga usia produktif yang dapat berbagi tanggung jawab memenuhi kebutuhan orang tua berpotensi semakin sedikit.
Tekanan tersebut tercermin dari kondisi ekonomi rumah tangga lansia. Riset DBS Foundation mencatat 82,96 persen rumah tangga lansia masih bergantung pada penghasilan anggota keluarga yang bekerja.
Sementara itu, kurang dari satu persen kehidupan ekonomi lansia berasal dari tabungan dan investasi. Situasi ini berpotensi memperbesar tekanan terhadap generasi produktif yang harus memenuhi kebutuhan diri, anak, dan orang tua sekaligus.
Fenomena inilah yang membuat isu sandwich generation semakin relevan ketika Indonesia memasuki masyarakat menua. Beban finansial yang ditanggung generasi produktif diproyeksikan meningkat seiring bertambahnya populasi lansia.
Persoalannya tidak berhenti pada ketergantungan finansial semata. Sebanyak 55,32 persen lansia masih bekerja dan 84,75 persen di antaranya berada di sektor informal dengan pendapatan tidak menentu.
Kondisi tersebut menunjukkan persiapan menghadapi masa tua tidak dapat dilakukan ketika seseorang sudah mendekati usia pensiun. Investasi pada pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan perencanaan finansial perlu dimulai sejak usia produktif.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan persiapan menghadapi populasi menua perlu dimulai ketika masyarakat masih berada pada usia produktif. Menurutnya, kesiapan harus dibangun secara menyeluruh.
"Ageing society merupakan isu penting bagi kami karena memiliki implikasi bagi seluruh generasi," ujar Mona.
Ia menambahkan kesiapan masyarakat perlu dibangun melalui pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, literasi dan inklusi keuangan hingga persiapan pensiun. Tujuannya agar masyarakat dapat menjalani masa tua secara sehat, produktif, sejahtera, dan mandiri.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan life-course yang disoroti pemerintah. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum menekankan setiap tahapan kehidupan perlu perhatian tepat.
Perhatian itu mulai dari masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif hingga usia lanjut. Pendekatan ini penting agar pembangunan sumber daya manusia berjalan berkesinambungan di setiap fase.
Dengan perubahan demografi yang berlangsung bertahap, bonus demografi Indonesia pada akhirnya bukan hanya soal jumlah penduduk usia kerja. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kualitas generasi produktif hari ini dapat menjadi fondasi bagi generasi berikutnya.
Upaya menyiapkan talenta digital dan memperkuat keterampilan generasi muda menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Tanpa persiapan matang, beban ketergantungan antargenerasi berpotensi diwariskan ke generasi berikutnya.