Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
China Kembali Kuasai Takhta Supercomputer Dunia
SHARE:

Technologue.id, Jakarta – China kembali merebut posisi puncak dalam daftar superkomputer tercepat di dunia setelah absen hampir satu dekade. Superkomputer terbaru bernama LineShine berhasil mencatatkan kinerja sebesar 2,198 exaflops, mengungguli pemegang gelar sebelumnya, El Capitan milik Amerika Serikat yang mencatatkan performa 1,809 exaflops.

Pencapaian tersebut menandai pertama kalinya sejak 2017 China kembali menempati posisi nomor satu dalam pemeringkatan superkomputer global yang dirilis oleh Top500. Menariknya, LineShine juga menjadi sistem pertama yang mampu menembus batas dua exaflops kinerja presisi ganda berkelanjutan hanya dengan menggunakan CPU, tanpa bantuan GPU yang selama ini menjadi andalan banyak superkomputer modern.

Menurut Top500, LineShine merupakan sistem yang sebelumnya tidak pernah dipublikasikan secara luas. Superkomputer ini dibangun menggunakan prosesor khusus berarsitektur 304 inti, dengan total sekitar 13,79 juta inti pemrosesan yang berjalan pada frekuensi 1,55 GHz. Seluruh komponen tersebut terhubung melalui teknologi interkoneksi milik perusahaan pengembangnya sendiri.

Mesin tersebut mengonsumsi daya sekitar 42,2 megawatt dan mampu mencapai efisiensi energi sebesar 52,07 gigaflops per watt. Pencapaian ini dinilai mengesankan mengingat banyak sistem superkomputer terdepan saat ini mengandalkan kombinasi CPU dan GPU untuk mencapai performa exascale.

"Pencapaian ini sangat mengesankan. Mereka berhasil melampaui kita dengan mengembangkan sistem yang tidak bergantung pada GPU," ujar penyelenggara Top500, Dr. Jack Dongarra, dalam wawancaranya dengan The New York Times.

Keberhasilan LineShine juga menjadi sorotan karena dicapai di tengah pembatasan ekspor teknologi canggih yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap China. Berbeda dengan banyak superkomputer modern yang memanfaatkan akselerator grafis dari NVIDIA atau AMD, LineShine mengandalkan desain CPU khusus yang dikembangkan secara mandiri.

Meski demikian, perusahaan pengembang belum mengungkapkan detail penting terkait rantai pasok perangkat kerasnya, termasuk identitas produsen CPU maupun teknologi fabrikasi chip yang digunakan.

Meski China berhasil kembali ke puncak, lanskap komputasi berkinerja tinggi global kini semakin kompetitif. Dominasi Amerika Serikat masih terlihat dari jumlah sistem exascale yang dimiliki, namun keberhasilan LineShine menunjukkan bahwa persaingan teknologi komputasi tingkat tinggi semakin terbuka.

Top500 juga menyoroti semakin beragamnya pendekatan yang digunakan dalam pengembangan superkomputer modern. Jika sebelumnya GPU dianggap sebagai jalur utama menuju komputasi exascale, kini berbagai vendor mengembangkan strategi berbeda dengan memanfaatkan CPU, GPU, APU, hingga akselerator khusus.

"Tidak ada satu jalur teknologi dominan untuk komputasi kelas pemimpin. Para vendor kini mengejar berbagai pendekatan berbeda," tulis Top500 dalam laporannya.

Keberhasilan LineShine menjadi bukti bahwa inovasi pada desain CPU masih memiliki ruang besar untuk bersaing dengan pendekatan berbasis GPU yang selama beberapa tahun terakhir mendominasi industri superkomputer.

Menurut laporan The New York Times, LineShine dikembangkan tanpa pendanaan pemerintah sehingga pengembangnya dapat mengajukan sistem tersebut ke pengujian Top500 tanpa menghadapi hambatan regulasi yang biasanya berlaku pada proyek-proyek strategis nasional China.

SHARE:

Salary Pulse: Kepuasan Gaji Terbukti Dorong Kinerja dan Loyalitas Karyawan

Garmin Approach Z10 Hadir, Laser Rangefinder untuk Golf Presisi