Jakarta — Industri daur ulang baterai kendaraan listrik di Eropa masih menghadapi tantangan besar. Studi sementara dari HHL Leipzig Graduate School of Management mengungkapkan bahwa proses daur ulang baterai saat ini justru merugi secara ekonomi.
Studi yang merupakan bagian dari proyek penelitian Uni Eropa Safeloop ini memperkirakan kerugian mencapai sekitar €1,90 atau Rp36 ribu per kilogram baterai. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi daur ulang yang sudah maju belum cukup untuk menutup biaya operasional.
Para peneliti menilai kondisi tersebut masih bisa diperbaiki dengan sejumlah pendekatan. Pengembangan model bisnis baru dan peningkatan efisiensi proses menjadi kunci utama untuk mengatasi persoalan ini.
Faktor Penyebab Kerugian Daur UlangStudi Safeloop mengidentifikasi beberapa faktor utama yang membuat daur ulang baterai EV belum menguntungkan di Eropa. Biaya transportasi, proses pembongkaran baterai, dan ketidakpastian pemulihan material menjadi tiga tantangan terbesar.
Biaya transportasi menjadi persoalan paling krusial karena baterai lithium-ion bekas dikategorikan sebagai barang berbahaya. Menurut studi, biaya pengangkutan baterai bekas rata-rata 16 kali lebih tinggi dibandingkan pengiriman barang biasa.
Kondisi ini membuat perusahaan yang hanya fokus pada daur ulang baterai memiliki kinerja ekonomi lebih rendah. Perusahaan dengan model bisnis lebih luas dinilai lebih mampu bertahan menghadapi tekanan biaya ini.
Baca Juga:
Persoalan keekonomian daur ulang baterai semakin penting setelah penerapan aturan baru Uni Eropa. Regulasi menetapkan bahwa mulai Agustus 2031, persentase minimum bahan baku baterai baru harus berasal dari material daur ulang.
Para peneliti Safeloop memodelkan dampak kerugian proses daur ulang terhadap biaya baterai. Dengan asumsi tingkat daur ulang 20 persen, biaya battery pack berpotensi meningkat sekitar 6 persen.
Artinya, jika biaya daur ulang tidak segera diatasi, ekonomi sirkular justru menambah beban biaya kendaraan listrik. Hal ini tentu menjadi perhatian bagi industri SUV listrik dan segmen lainnya.
Peluang Second Life BatterySafeloop melihat peluang besar melalui konsep second life battery untuk meningkatkan nilai ekonomi. Baterai yang tidak lagi memenuhi kebutuhan kendaraan dapat digunakan untuk penyimpanan energi stasioner.
Sebagai contoh, baterai bus listrik yang memasuki akhir masa penggunaan pertamanya bisa dimanfaatkan sebagai sistem penyimpanan energi. Studi menunjukkan penggunaan dua fase kehidupan dapat meningkatkan nilai ekonomi hingga 64 persen.
Namun, peningkatan nilai tersebut tidak selalu dinikmati pihak yang menanggung biaya daur ulang. Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai distribution problem dalam rantai ekonomi baterai.
Langkah Meningkatkan EfisiensiPenelitian Safeloop menemukan sejumlah langkah yang berpotensi meningkatkan keekonomian daur ulang baterai. Desain baterai yang lebih aman dan memperpendek jarak transportasi menjadi dua pendekatan utama.
Proses pembongkaran yang lebih otomatis serta fasilitas daur ulang khusus juga direkomendasikan. Standardisasi protokol transportasi baterai turut disebut sebagai faktor penting lainnya.
Jika berbagai pendekatan diterapkan bersamaan, biaya daur ulang diperkirakan bisa ditekan sekitar 34 persen. Kondisi yang semula merugi €1,90 berpotensi berubah menjadi keuntungan €0,13 atau sekitar Rp2.500 per kg.
Kerja Sama InternasionalUpaya meningkatkan efisiensi daur ulang juga dilakukan melalui kerja sama internasional. Pada Mei 2026, Uni Eropa dan India meluncurkan pendanaan bersama sebesar €15,2 juta atau sekitar Rp289 miliar.
Fokus kerja sama mencakup peningkatan efisiensi pemulihan material dan digitalisasi sistem pengumpulan baterai. India juga direncanakan memiliki fasilitas percontohan untuk menguji teknologi baru.
Menurut proyek Safeloop, persoalan utama ekonomi sirkular baterai tidak hanya pada teknologi daur ulang. Kehadiran pihak koordinator baru yang mengelola battery pack sepanjang beberapa fase kehidupan baterai dinilai perlu dipertimbangkan.
Pemimpin studi Safeloop, Dima Smirnov dari HHL, menjelaskan bahwa pihak koordinator tersebut dapat memiliki baterai beserta material di dalamnya. Dengan demikian, tekanan pasar untuk inovasi proses hulu bisa diciptakan sekaligus mendistribusikan nilai ekonomi secara lebih adil.