Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Dosen UNISSULA Ubah Cara Mengajar Mahasiswa Gen Z Lewat Kuis dan Bedah Kasus
SHARE:

Jakarta, Technologue.id – Kuliah tak harus selalu dimulai dengan dosen berbicara di depan kelas dan mahasiswa sibuk mencatat. Friska Realita, dosen Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, memilih cara berbeda untuk melibatkan mahasiswa generasi Z di ruang kelas.

Metode yang ia terapkan mulai dari kuis singkat hingga membedah kasus nyata. Pendekatan itu dirancang agar mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif bertanya, menganalisis persoalan, menyampaikan pendapat, dan menghubungkan teori dengan situasi di lapangan.

Perubahan cara mengajar itu dilakukan Friska setelah mengikuti Inspiring Lecturer Program (ILP) 2026 yang digagas ParagonCorp. Salah satu sesi yang memberinya perspektif baru adalah bootcamp bertema Reimagining the Classroom: Teaching in the Age of Gen Z.

Dari pengalaman tersebut, Friska menyadari bahwa pembelajaran yang menarik membutuhkan persiapan matang. Menurutnya, menyampaikan materi tidak cukup hanya dengan mengandalkan bahan yang sudah tersedia.

“Saya tersadar bahwa menyiapkan materi perkuliahan dengan baik membutuhkan kesungguhan. Bahkan untuk membuat presentasi yang benar-benar baik bisa membutuhkan waktu seminggu atau lebih, bukan sekadar dikerjakan dalam satu malam,” kata Friska.

Friska kemudian menata ulang materi presentasi sekaligus cara menyampaikan pelajaran. Jika sebelumnya kelas identik dengan penjelasan dosen, kini perkuliahan dapat dimulai dengan kuis singkat untuk memancing rasa ingin tahu mahasiswa.

Setelah itu, mahasiswa diajak membahas kasus nyata menggunakan metode case-based learning atau pembelajaran berbasis kasus. Dalam prosesnya, mahasiswa berdiskusi, mempresentasikan hasil analisis, dan bertukar pendapat.

Friska lantas memberikan umpan balik serta membantu mahasiswa menghubungkan temuan diskusi dengan konsep yang dipelajari. Ia juga memasukkan hasil penelitian terbaru ke dalam materi kuliah.

Langkah itu dilakukan agar mahasiswa dapat memahami perkembangan ilmu. Mereka pun tidak hanya mengandalkan teori dari buku ajar yang sifatnya lebih statis.

“Pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika mahasiswa dilibatkan secara langsung. Mereka tidak hanya mendengarkan dosen menjelaskan, tetapi berdiskusi, menganalisis kasus, menyampaikan pendapat, kemudian bersama-sama menghubungkannya dengan konsep perkuliahan,” ujarnya.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa mendapat kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan menyampaikan argumen. Sementara itu, dosen berperan membantu mereka memilah informasi dan memahami suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.

Bagi Friska, perubahan pembelajaran tidak cukup dilakukan dengan mengganti metode presentasi atau menambahkan kuis. Suasana kelas juga perlu mendukung mahasiswa agar berani terlibat.

Ia menilai mahasiswa perlu merasa nyaman untuk mengajukan pertanyaan, mengutarakan pendapat, bahkan melakukan kesalahan selama proses belajar. Ruang aman itu menjadi kunci agar diskusi tidak berjalan satu arah.

“Mahasiswa membutuhkan dosen yang mau mendengarkan dan memberikan ruang untuk bertanya tanpa takut salah. Saya ingin menjadi dosen yang bukan hanya memberikan materi, tetapi juga bisa menjadi teman berdiskusi, tempat mahasiswa bercerita mengenai hambatan belajarnya,” tuturnya.

Menurut Friska, komunikasi yang terbuka membantu dosen memahami kesulitan yang dihadapi mahasiswa. Dengan begitu, metode dan materi pembelajaran dapat disesuaikan agar lebih relevan dengan kebutuhan mereka.

Pendekatan ini juga menempatkan mahasiswa sebagai bagian aktif dalam proses belajar, bukan sekadar penerima informasi. Pola serupa sejalan dengan berbagai program pengembangan talenta digital yang menekankan praktik langsung, seperti yang tergambar dalam inisiatif PSIB Angkatan Kedua.

Selain mendorong diskusi, Friska berupaya menghubungkan kegiatan pengajaran dengan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Temuan penelitian dibawa ke ruang kuliah untuk memperkaya pembahasan.

Sebaliknya, persoalan yang muncul selama pembelajaran maupun di tengah masyarakat dapat menjadi bahan untuk penelitian berikutnya. Siklus itu membuat ilmu yang dipelajari tidak berhenti di ruang kelas.

“Apa yang ditemukan melalui penelitian dapat dibawa kembali ke ruang kelas, kemudian ilmu yang kita miliki juga bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Dengan cara tersebut, proses belajar tidak hanya berorientasi pada penyelesaian materi perkuliahan. Mahasiswa juga berkesempatan melihat hubungan antara pengetahuan akademik dan persoalan nyata di sekitar mereka.

Friska merupakan satu dari 1.000 dosen yang menyelesaikan ILP 2026 hingga tahap kelulusan. Sejak 2021, program tersebut telah menjangkau lebih dari 7.000 dosen di Indonesia.

Program itu melengkapi Wardah Inspiring Teacher (WIT), inisiatif pengembangan guru yang telah berjalan sejak 2017. Keduanya menyasar peningkatan kualitas pengajar di berbagai jenjang pendidikan.

Pengalaman Friska menunjukkan bahwa perubahan di ruang kelas dapat dimulai dari langkah konkret. Mulai dari mempersiapkan materi dengan lebih baik, memberi kesempatan mahasiswa menyampaikan gagasan, hingga membangun suasana belajar yang terbuka.

Pada akhirnya, kuliah yang melibatkan mahasiswa bukan sekadar soal membuat kelas lebih ramai. Tujuannya adalah membantu mereka memahami materi, berani menguji gagasan, serta menggunakan pengetahuan untuk membaca persoalan di kehidupan nyata.

Pendekatan semacam ini juga relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Berbagai perusahaan teknologi membuka peluang bagi talenta muda yang terbiasa berpikir kritis, sebagaimana terlihat dari langkah Startup bibit.id dalam membuka lowongan kerja.

SHARE:

Philips Smart Lighting Bawa Pengalaman Menonton TV ke Level Lebih Imersif

Gaming Makin Seru, Philips Smart Lighting Hadirkan HDMI Sync 120Hz