Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Fenomena PHK Berulang di Era AI, Karyawan Teknologi Hidup dalam Ketidakpastian
SHARE:

Jakarta — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi kian menjadi pemandangan umum. Perusahaan raksasa seperti Microsoft, Amazon, hingga Meta terus melakukan efisiensi, meski di saat bersamaan mencatatkan keuntungan besar dan menggelontorkan dana fantastis untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini menandai era baru dalam dunia kerja, di mana PHK bukan lagi sekadar respons terhadap resesi, melainkan strategi bisnis yang berkelanjutan.

Dalam beberapa pekan terakhir, Microsoft mengumumkan akan memangkas sekitar 4.800 karyawan. Langkah serupa juga diambil oleh Cloudflare yang memangkas lebih dari 20 persen tenaga kerjanya pada Mei lalu. CEO Cloudflare, Matthew Prince, bahkan menyebut praktik ini kemungkinan akan menjadi norma baru di tahun-tahun mendatang.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu atau dua perusahaan. Cisco, yang mencatatkan pendapatan rekor pada kuartal fiskal ketiganya, tetap memutuskan untuk memangkas hampir 5 persen karyawannya. CEO Cisco, Chuck Robbins, beralasan bahwa perusahaan yang akan menang di era AI adalah mereka yang disiplin dalam menggeser investasi ke area dengan potensi jangka panjang terbesar.

Alih-alih menunggu kepastian, banyak perusahaan justru melakukan PHK berulang sambil mencari tahu bagaimana AI akan mengubah bisnis mereka. Bagi karyawan, ancaman pemangkasan ini perlahan menjadi fitur reguler dari bekerja di industri teknologi, bukan lagi kekhawatiran musiman saat resesi.

Data dari AlphaSense menunjukkan, penyebutan kata PHK bersamaan dengan AI dalam panggilan konferensi perusahaan melonjak drastis. Dari kurang dari lima kali per kuartal pada 2022 saat ChatGPT diluncurkan, kini menjadi lebih dari 100 kali per kuartal. Ini membuktikan bahwa AI menjadi alasan utama di balik keputusan PHK massal di banyak perusahaan.

Namun, beberapa perusahaan membantah kaitan langsung antara PHK dan AI. Microsoft dan Amazon sama-sama menyatakan bahwa AI bukanlah penyebab utama pemangkasan karyawan mereka. Meta pun mengklaim perubahan yang dilakukan lebih bersifat penyesuaian prioritas tim, termasuk memindahkan ribuan pekerja ke divisi lain.

Di sisi lain, banyak perusahaan di sektor informasi yang melakukan pemangkasan setelah melakukan perekrutan besar-besaran selama pandemi. AI yang mampu mengotomatisasi sebagian pekerjaan juga mendorong restrukturisasi agar perusahaan beroperasi lebih efisien. Penghematan dari efisiensi ini kemudian dialokasikan untuk investasi AI yang mahal.

Joseph Fuller, profesor di Harvard Business School, memperkirakan perusahaan tidak akan melakukan PHK besar-besaran kecuali menghadapi masalah serius. Sebaliknya, ia menyebut akan terjadi apa yang ia istilahkan sebagai "continuous tuning" atau penyesuaian berkelanjutan dalam skala kecil. Ketidakpastian tentang bagaimana AI akan berkembang menjadi alasan utama strategi ini.

Tekanan kompetitif juga menjadi faktor pendorong. Fuller menjelaskan, jika perusahaan hanya melakukan hal-hal inkremental sementara pesaingnya bergerak agresif, mereka bisa tertinggal jauh. "Ketidakpastian ini, saya pikir, akan cenderung mengarah pada PHK," ujar Fuller.

Carrol Chang, CEO Andela, menambahkan bahwa PHK ini bukan semata-mata karena perusahaan mengganti pekerja dengan AI. Banyak dewan direksi yang menekan tim manajemen untuk menunjukkan peningkatan produktivitas berbasis AI tanpa meningkatkan pengeluaran secara drastis. Namun, belum banyak perusahaan besar yang benar-benar bisa beroperasi dengan tenaga kerja yang jauh lebih kecil berkat AI.

Chang menyarankan agar perusahaan lebih baik membantu karyawan yang ada untuk belajar menggunakan teknologi AI secara efektif. Pasalnya, tenaga kerja yang benar-benar paham AI sangat langka dan mahal. "Pekerja yang benar-benar native AI dan fasih AI sangat langka, dan jika Anda bisa menemukannya, mereka sangat mahal," katanya.

Dampak psikologis dari PHK berulang juga tidak bisa diabaikan. Seorang mantan karyawan Meta menggambarkan periode antara pengumuman dan pelaksanaan PHK sebagai "28 hari neraka." Moyan Chen, data scientist yang di-PHK dari Meta, mengatakan ketika PHK yang dikhawatirkannya akhirnya tiba, rasanya lebih seperti kelegaan daripada kesakitan.

Jeffrey Pfeffer, profesor di Stanford University, memperingatkan bahwa PHK berulang menciptakan ketidakpastian berkepanjangan di dalam organisasi. Hal ini mendorong karyawan terbaik untuk pergi, sekaligus melemahkan hubungan dan pengetahuan institusional yang membuat perusahaan efektif. Biaya pesangon, rekrutmen, pelatihan, dan kontraktor tambahan membuat siklus PHK dan perekrutan kembali menjadi mahal.

Menariknya, beberapa perusahaan justru menyadari bahwa mereka telah bertindak terlalu jauh. Mereka terpaksa merekrut kembali untuk posisi yang sebelumnya dihilangkan karena berharap AI bisa menggantikan pekerjaan tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa adopsi AI belum semulus yang dibayangkan banyak eksekutif.

Fuller menambahkan, seiring AI mengambil alih lebih banyak pekerjaan, perusahaan justru akan membutuhkan lebih banyak orang yang memiliki pemahaman kontekstual yang kuat tentang proses perusahaan, pasar, pesaing, pelanggan, pemasok, dan regulasi industri. "Anda perlu mempertahankan orang yang tahu apa yang mereka bicarakan," tegasnya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa era AI tidak hanya membawa peluang, tetapi juga tantangan besar bagi dunia kerja. Perusahaan perlu bijak dalam menyeimbangkan efisiensi yang ditawarkan AI dengan kebutuhan mempertahankan tenaga kerja berkualitas. Bagi karyawan, adaptasi dan peningkatan keterampilan menjadi kunci untuk bertahan di tengah ketidakpastian ini.

SHARE:

Waze Hadirkan Fitur AI Baru, Kini Punya Mode Khusus Pengendara Motor

Microsoft Akui Emisi Karbon Naik 25 Persen pada 2025