Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Gaya Hidup Flexing di Media Sosial dan Risiko Utang Anak Muda
SHARE:

Jakarta, Technologue.id - Gaya hidup flexing semakin mudah terlihat belakangan ini. Pemicunya antara lain melalui media sosial yang kini bukan cuma tempat ngobrol. Instagram, TikTok, dan X menjadi ruang untuk memamerkan gaya hidup.

Scroll sebentar saja, kita bisa melihat unggahan kemewahan. Mulai dari kendaraan mahal, liburan mewah, hingga barang bermerek. Konten tersebut memang terlihat menarik, tetapi tanpa sadar bisa memunculkan tekanan sosial bagi penontonnya.

Perkembangan teknologi digital membuat siapa pun bisa membagikan kehidupannya kepada publik. Akibatnya, media sosial berkembang menjadi tempat membangun citra sekaligus menunjukkan identitas. Di tengah kondisi tersebut, budaya flexing tumbuh semakin kuat.

Seseorang bisa menunjukkan kekayaan, barang mewah, atau pencapaian tertentu demi perhatian dan pengakuan sosial. Masalahnya, tidak semua orang memiliki kemampuan finansial seperti yang terlihat di layar. Tampilan kehidupan orang lain tetap bisa memunculkan keinginan mengikuti tren.

Akhirnya, muncul tekanan untuk terlihat sukses dan tidak ketinggalan zaman. Dorongan tersebut kemudian dapat memengaruhi cara generasi muda mengambil keputusan keuangan. Fenomena ini pun mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan.

Salah satu efek yang sering muncul akibat gaya hidup flexing adalah Fear of Missing Out (FOMO). Sederhananya, seseorang merasa takut tertinggal ketika melihat orang lain menikmati tren tertentu. Misalnya, melihat teman membeli ponsel terbaru atau berlibur ke tempat populer.

Kemudian, muncul keinginan untuk melakukan hal serupa meski kondisi keuangannya belum mendukung. Situasi seperti itu dapat mendorong perilaku konsumtif secara perlahan. Apalagi, berbagai layanan keuangan digital membuat proses pembayaran terasa semakin praktis.

PayLater dan pinjaman online kini dapat digunakan dengan proses yang relatif cepat. Bagi sebagian anak muda, fasilitas tersebut terlihat seperti jalan keluar ketika keinginan muncul mendadak. Padahal, kredit tetap merupakan kewajiban yang harus dibayar pada kemudian hari.

Karena itu, kemudahan transaksi tidak selalu berarti seseorang mampu membeli barang tersebut. Kredit online memang menawarkan manfaat ketika digunakan secara terencana. Namun, penggunaan tanpa perhitungan dapat membuat pengeluaran melampaui kemampuan membayar.

Barang yang sebenarnya tidak mendesak bisa terlihat seperti kebutuhan ketika tren terus muncul. Ditambah lagi, media sosial membuat berbagai produk mudah masuk ke dalam keseharian pengguna. Ketika cicilan mulai menumpuk, ruang finansial untuk kebutuhan lain ikut menyempit.

Jika pendapatan tetap terbatas, risiko keterlambatan pembayaran juga dapat meningkat. Kondisi tersebut kemudian dapat berkembang menjadi gagal bayar. Dampaknya bukan cuma terasa sekarang, tetapi juga bisa memengaruhi reputasi kredit seseorang pada masa mendatang.

Karena itu, penting membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum menggunakan fasilitas kredit. Jangan sampai keinginan terlihat sukses di media sosial justru membuat kondisi keuangan semakin berat. Sejumlah pihak pun menyoroti sisi sosial dari fenomena ini.

Fenomena gaya hidup flexing ternyata memiliki sisi sosial yang lebih kompleks daripada sekadar pamer barang mahal. Media sosial juga menjadi ruang ketika masyarakat menilai dan memberikan respons terhadap perilaku seseorang. Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, Aulia Hadi, menjelaskan perubahan tersebut.

“Fenomena ini tidak hanya berhenti pada upaya membangun identitas, tetapi juga berkembang menjadi praktik flexing.” Menurut Aulia, media sosial memungkinkan individu menampilkan identitas melalui berbagai bentuk representasi. Bentuk tersebut dapat berupa ekspresi diri hingga konstruksi citra tertentu.

Di sisi lain, flexing juga dapat memicu dorongan mencari pengakuan. Namun, fenomena tersebut sekaligus membuka ruang partisipasi publik dalam melakukan pengawasan sosial. “Media sosial kini menjadi arena diskusi terbuka yang memungkinkan masyarakat memberikan respons, evaluasi, bahkan kritik.”

Peneliti PRMB BRIN, Ikbal Maulana, menggunakan konsep extended self untuk menjelaskan fenomena tersebut. Konsep ini melihat identitas seseorang tidak hanya berasal dari aspek internal. Kepemilikan material juga dapat menjadi bagian dari cara seseorang membentuk identitas.

Barang, gaya hidup, dan simbol kekayaan akhirnya bisa memiliki makna personal yang kuat. “Barang, gaya hidup, dan simbol kekayaan menjadi representasi diri yang kuat.” Bahkan, menurut Ikbal, representasi tersebut sering kali lebih bermakna daripada pernyataan verbal.

Media sosial kemudian ikut membuat praktik pamer kekayaan terlihat semakin normal. Fenomena micro-celebrity juga memperkuat kondisi tersebut dengan mengaburkan batas individu biasa dan figur publik. Namun, masyarakat ternyata tidak selalu memberikan respons yang sama terhadap praktik flexing.

Konteks seseorang ternyata ikut memengaruhi bagaimana publik melihat tampilan kekayaan tersebut. Respons publik cenderung menjadi lebih kritis ketika praktik flexing melibatkan orang yang berkaitan dengan kekuasaan. Contohnya termasuk pejabat atau anggota keluarganya yang menampilkan gaya hidup mewah.

Menurut Ikbal, tampilan kekayaan dalam konteks tersebut sering langsung memunculkan pertanyaan publik. Masyarakat dapat mengaitkannya dengan dugaan korupsi atau penyalahgunaan wewenang. Kondisi ini menunjukkan bahwa flexing tidak selalu mendapat toleransi yang sama.

Publik dapat memberikan penilaian berbeda berdasarkan latar belakang dan posisi sosial seseorang. Pada akhirnya, media sosial memang memberi ruang luas untuk berekspresi dan membangun identitas. Namun, ruang tersebut juga membawa konsekuensi ketika unggahan seseorang memengaruhi orang lain.

Mengikuti tren sebenarnya bukan sesuatu yang otomatis salah. Masalahnya muncul ketika seseorang memaksakan gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan finansial. Karena itu, setiap keinginan sebaiknya melewati pertimbangan sederhana sebelum transaksi dilakukan.

Tanyakan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya muncul karena melihat unggahan orang lain. Jika jawabannya hanya karena takut ketinggalan, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak. Jangan sampai FOMO membuat keputusan finansial hari ini menjadi masalah untuk masa depan.

Media sosial boleh menjadi tempat mencari inspirasi, hiburan, dan informasi. Namun, kehidupan yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya. Pada akhirnya, gaya hidup tidak perlu selalu mengikuti apa yang sedang ramai di media sosial.

Justru, kemampuan mengatur keuangan sesuai kondisi diri bisa menjadi bentuk pencapaian yang lebih nyata. Literasi digital dan literasi finansial pun menjadi kunci agar generasi muda tidak mudah terjebak tekanan sosial. Dengan begitu, media sosial tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan finansial jangka panjang.

SHARE: