Jakarta – Kepala Instagram Adam Mosseri menyatakan bahwa kreator manusia justru akan semakin berharga di tengah ledakan konten buatan AI. Menurutnya, keaslian dan kreativitas manusia menjadi faktor pembeda yang semakin dicari.
Dalam podcast Lenny Rachitsky yang tayang pada Kamis lalu, Mosseri menegaskan bahwa platformnya akan terus mendukung kreator manusia. Ia percaya pengguna Instagram tidak hanya mencari konten, tetapi juga sosok di baliknya.
“Di dunia yang dipenuhi konten sintetis, saya rasa orang akan mencari kreativitas dan keaslian manusia, bukan sebaliknya,” ujar Mosseri. Ia menambahkan bahwa hal ini akan membantu ekosistem kreator ke depannya.
Sejak menjabat pada 2018, Mosseri melihat investasi pada kreator sebagai strategi jangka panjang Instagram. Pasalnya, pengguna peduli pada perspektif dan alasan seseorang membagikan konten.
“Instagram tidak pernah hanya tentang konten, tetapi juga orang di baliknya,” jelasnya. Perspektif dan sudut pandang manusia menjadi semakin penting di era AI.
Pernyataan ini muncul saat ekonomi kreator bergulat dengan maraknya influencer virtual dan video sintetis. Beberapa kreator khawatir teknologi AI dapat mengancam mata pencaharian mereka.
Brand kini mulai bereksperimen dengan kepribadian digital yang tidak butuh gaji atau liburan. Namun Mosseri optimistis nilai konten autentik manusia justru akan meningkat.
Pada Desember lalu, Mosseri menyebut AI telah membunuh estetika Instagram yang terlalu rapi. Menurutnya, konten yang terasa nyata kini lebih dicari pengguna.
“Citra yang indah murah diproduksi dan membosankan dikonsumsi,” tegasnya. Media sosial yang dipenuhi konten sintetis membuat pengguna mendambakan keaslian.
Meski begitu, Mosseri mengakui AI akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Instagram. Ia menyebut teknologi ini sebagai angin segar yang perlu dihadapi dengan bijak.
Daripada membatasi konten AI, Mosseri memilih fokus pada transparansi. Instagram akan membantu pengguna memahami apakah suatu konten dibuat oleh AI atau bukan.
“Saya tidak setuju menyaring konten AI, tapi kami harus memberi tahu pengguna,” ujarnya. Konten tetap dinilai dari kualitas dan orang di baliknya, bukan alat yang digunakan.
Mosseri menambahkan Instagram perlu lebih pintar membedakan konten AI berkualitas tinggi dan rendah. Keunggulan jangka panjang platform ini terletak pada koneksi antarmanusia.
“Saya pikir AI akan menjadi angin segar karena orang akan mencari sesama manusia,” pungkasnya. Optimisme ini menjadi sinyal positif bagi para kreator konten.
Fenomena ini juga mendorong berbagai platform mengembangkan solusi untuk kreator. Misalnya, Kolaborasi Indosat, Adobe, dan Kemenekraf yang mendorong kreator muda untuk berkembang di era digital.
Di sisi lain, TikTok uji coba influencer virtual yang memicu kekhawatiran akan peran manusia. Namun Mosseri yakin autentisitas manusia tidak bisa tergantikan.
Pendekatan Instagram ini menunjukkan bahwa platform besar masih percaya pada nilai kreator manusia. Meski AI terus berkembang, sentuhan personal tetap menjadi aset berharga.
Kreator konten pun diimbau untuk terus mengembangkan keunikan dan autentisitas mereka. Sebab, di tengah banjir konten AI, hal itulah yang akan membuat mereka bertahan dan bersinar.