Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
LiveWire, Motor Listrik Harley-Davidson, Terancam Gulung Tikar
SHARE:

Jakarta, Technologue.id – Masa depan LiveWire, merek motor listrik yang merupakan spin-off dari Harley-Davidson, kini berada di ujung tanduk. Perusahaan mengungkapkan keraguan substansial mengenai kemampuannya untuk terus beroperasi sebagai entitas yang berkelanjutan atau going concern dalam laporan keuangannya yang terbaru.

Peringatan tersebut muncul di tengah berbagai masalah keuangan yang mendera. LiveWire secara spesifik menyebutkan faktor-faktor seperti kerugian operasional yang berulang, arus kas negatif, serta sumber likuiditas yang terbatas sebagai penyebab utama dari keraguan ini.

Ironisnya, sinyal bahaya ini muncul justru saat penjualan LiveWire menunjukkan peningkatan pada kuartal ini. Perusahaan juga mengklaim memiliki pangsa pasar yang dominan, yaitu 80 persen di segmen motor listrik on-road dengan daya di atas 50 kW.

Untuk mengatasi permasalahan yang kian memburuk, LiveWire telah membentuk apa yang disebut sebagai "komite restrukturisasi khusus". Komite ini bertugas untuk mengeksplorasi berbagai opsi penyelamatan, termasuk mencari pendanaan baru, menjual sebagian atau seluruh perusahaan, melakukan restrukturisasi, hingga menjajaki kemitraan strategis.

Langkah drastis ini diambil setelah perusahaan secara resmi menarik panduan keuangannya sebelumnya. Sebelumnya, LiveWire memproyeksikan kerugian operasional pada tahun 2026 berada di kisaran 70 juta hingga 80 juta dolar AS atau sekitar Rp1,1 triliun hingga Rp1,3 triliun.

Sejarah mencatat bahwa Harley-Davidson masih memegang 74 persen saham di LiveWire. Kepemilikan ini terbentuk setelah Harley-Davidson memisahkan LiveWire menjadi unit terpisah melalui merger dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus (SPAC) pada tahun 2022 silam.

Peringatan mengenai kelangsungan hidup perusahaan ini datang bersamaan dengan peluncuran produk terbaru mereka, LiveWire S4 Honcho. Motor listrik ini diluncurkan dengan harga awal di bawah 5.000 dolar AS atau sekitar Rp80 juta, sebuah langkah agresif untuk menarik lebih banyak konsumen.

Perusahaan mengonfirmasi bahwa unit pertama dari model tersebut, yaitu S4 Honcho Trail, telah dikirim ke pasar Amerika Serikat. Sementara itu, versi S4 Honcho Street direncanakan akan mulai dikirim ke dealer-dealer pada bulan Oktober mendatang.

Selain S4 Honcho, LiveWire juga baru saja memperkenalkan model anyar lainnya yang diberi nama Dust Spur. Peluncuran model-model baru ini tampaknya menjadi upaya perusahaan untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan arus kas di tengah tekanan finansial yang berat.

Meskipun LiveWire menghadapi masalah internal, pasar motor listrik secara global justru menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Selama lima tahun terakhir, pasar sepeda motor listrik tumbuh secara stabil dengan penjualan mencapai rekor 10,17 juta unit pada tahun 2025.

Namun, motor berbahan bakar pembakaran internal (ICE) masih mendominasi pangsa pasar global. Data dari Mordor Intelligence menunjukkan bahwa motor ICE menguasai hampir 88 persen dari total penjualan pada tahun 2024, menandakan transisi ke elektrifikasi masih berjalan lambat.

Pertumbuhan pasar motor listrik global sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Asia Tenggara dan Afrika. Kedua kawasan ini mencatat pertumbuhan yang sangat signifikan pada tahun 2025, masing-masing sebesar 83 persen dan 86,9 persen.

Sementara itu, pasar Amerika Utara, yang menjadi pasar utama LiveWire, hanya tumbuh sebesar 27 persen pada tahun lalu. Angka ini memang positif, tetapi mungkin tidak cukup cepat untuk menutupi kerugian operasional yang dialami LiveWire saat ini.

Situasi sulit yang dihadapi LiveWire menjadi ironi tersendiri mengingat warisan Harley-Davidson sebagai ikon otomotif Amerika Serikat. Perusahaan berharap motor listrik yang lebih terjangkau dapat membantu ekspansi ke wilayah lain dan memperbaiki kondisi keuangan mereka.

Namun, semua bergantung pada kemampuan LiveWire untuk menavigasi masalah keuangan yang pelik saat ini. Tanpa solusi restrukturisasi yang efektif, masa depan merek motor listrik legendaris ini akan terus menjadi tanda tanya besar.

SHARE:

Meta Bikin Robot Humanoid untuk Bantu Pekerjaan Rumah, Ini Wujudnya

Data 11,7 Juta Pengguna Capcom Bocor