Technologue.id, Jakarta – Apple dilaporkan tengah menghadapi kelangkaan stok MacBook Air di berbagai wilayah. Tidak hanya harga laptop tipis andalannya itu mengalami kenaikan, konsumen juga harus menunggu lebih lama untuk mendapatkannya karena pasokan yang terbatas.
Menurut laporan Mark Gurman dari Bloomberg, pelanggan yang memesan MacBook Air saat ini diperkirakan baru akan menerima perangkat mereka pada akhir Agustus. Kondisi tersebut dinilai tidak biasa mengingat Apple selama ini dikenal mampu menjaga ketersediaan stok produk MacBook di pasar.
Yang lebih menarik, Apple disebut mulai mengarahkan calon pembeli untuk mempertimbangkan MacBook Pro versi dasar sebagai alternatif. Di situs resmi maupun toko ritelnya, perusahaan bahkan menampilkan peringatan bahwa ketersediaan MacBook Air bergantung pada stok yang tersedia.
Kelangkaan MacBook Air diyakini berkaitan dengan krisis pasokan memori global yang dijuluki "Ramageddon". Krisis ini dipicu oleh meningkatnya permintaan chip memori dari industri kecerdasan buatan (AI), terutama untuk kebutuhan pusat data yang berkembang sangat pesat.
Lonjakan kebutuhan memori tersebut membuat pasokan komponen menjadi semakin terbatas, sehingga berdampak pada proses produksi berbagai perangkat elektronik, termasuk laptop.
Selain faktor tersebut, Gurman menyebut Apple juga memprioritaskan produksi MacBook Pro 14 inci. Langkah ini dilakukan untuk menghabiskan stok model yang ada sebelum perusahaan memperkenalkan pembaruan dengan chipset M6 dalam waktu mendatang.
Situasi pasokan yang ketat juga berdampak pada harga. MacBook Air yang sebelumnya dibanderol mulai dari US$1.099 kini dilaporkan naik menjadi US$1.299, atau meningkat sekitar US$200.
Kenaikan harga ini menjadi salah satu konsekuensi dari meningkatnya biaya komponen serta keterbatasan pasokan yang sedang berlangsung.