Jakarta, Technologue.id — Meta kembali menjadi sorotan publik setelah diduga mengambil alih username media sosial milik band legendaris asal Devon, Inggris, Muse. Username @muse yang selama bertahun-tahun digunakan band tersebut di Instagram dan X kini beralih ke layanan kecerdasan buatan (AI) terbaru Meta yang juga bernama Muse. Peristiwa ini memicu reaksi keras dari para penggemar yang menilai langkah tersebut sebagai ironi besar.
Meta belum lama ini meluncurkan layanan AI baru bernama Muse yang dirancang dapat menjadi agen pribadi bagi pengguna. Pengumuman tersebut langsung menarik perhatian netizen karena perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu diduga merebut handle media sosial milik band Muse untuk aplikasi barunya. Band Muse sendiri telah mendaftarkan merek dagang namanya sejak tahun 1999, jauh sebelum Meta mengumumkan layanan AI-nya.
Perubahan username band Muse pertama kali disadari oleh para penggemar pada awal musim panas ini. Username akun mereka di Instagram dan X berubah dari @muse menjadi @museband. Menurut laporan The Independent, perubahan nama itu terjadi pada bulan Juli, meski beberapa pengguna Reddit mengaku sudah mengamati perubahan sejak awal Juni. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak band mengenai alasan perubahan tersebut.
Setelah Meta mengumumkan agen AI Muse, aplikasi tersebut langsung menggunakan username @muse di Instagram dan X. Kondisi ini identik dengan apa yang terjadi pada akun band Muse yang kini harus puas dengan handle @museband. Pengambilalihan username ini pun memunculkan pertanyaan besar mengenai mekanisme dan kesepakatan yang melatarbelakangi perpindahan handle tersebut.
Sejumlah penggemar band Muse menyindir ironi perubahan nama tersebut melalui media sosial. Mereka menyoroti fakta bahwa Muse dikenal lewat sejumlah lagu yang memperingatkan tentang masa depan distopia, di mana publik diperintah atau dicuci otak oleh teknologi. Kini, nama band yang identik dengan kritik terhadap dominasi mesin itu justru digunakan oleh layanan AI milik perusahaan teknologi raksasa.
"Muse berubah dari band yang membuat album rock distopia yang memperingatkan kita tentang pengambilalihan oleh mesin hingga akhirnya menerima uang dari AI adalah ironi tragis," kata seorang penggemar di X, seperti dikutip dari The Independent, Minggu (13/9/2026). Komentar tersebut mewakili kekecewaan sebagian besar penggemar yang merasa nilai-nilai band berseberangan dengan langkah korporasi tersebut.
Sampai saat ini, belum diketahui perjanjian seperti apa yang disepakati band Muse dengan Meta terkait pengambilalihan username tersebut. Tidak ada keterangan resmi mengenai apakah terjadi transaksi finansial, kerja sama tertentu, atau langkah hukum di balik perpindahan handle @muse. Ketidakjelasan ini semakin memperkuat spekulasi publik mengenai praktik penguasaan username oleh perusahaan besar.
Kejadian ini bukan pertama kalinya username media sosial berpindah tangan setelah Meta membuat pengumuman besar-besaran. Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu pernah merebut username Instagram @Meta dari majalah motor independen dengan nama yang sama. Pengambilalihan itu terjadi setelah Facebook mengubah nama perusahaannya menjadi Meta pada tahun 2021.
Ketika Meta meluncurkan Threads pada tahun 2023, mereka juga mengambil alih username @threads di Instagram dari toko fesyen kecil bernama American Threads. Pola serupa kembali terulang dalam kasus band Muse ini. Sejumlah pihak menilai praktik tersebut menunjukkan kecenderungan perusahaan teknologi besar mendahulukan kepentingan korporasi di atas entitas kecil maupun komunitas yang lebih dulu menggunakan nama tersebut.
Secara resmi, Meta melarang pengguna membeli, menjual, atau memperdagangkan username Instagram. Aturan tersebut tertuang dalam kebijakan platform yang berlaku bagi seluruh pengguna. Namun, beberapa username yang banyak dicari tetap berhasil berpindah tangan, kadang lewat jalur rahasia yang tidak transparan. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi penegakan aturan di internal Meta sendiri.
Kasus ini turut menyoroti bagaimana nilai sebuah username kini setara dengan aset digital yang strategis bagi perusahaan teknologi. Nama pendek dan mudah diingat seperti @muse memiliki nilai branding tinggi, terutama untuk produk baru yang ingin langsung dikenal publik. Meta tampaknya memahami betul potensi tersebut ketika memutuskan menggunakan nama Muse untuk layanan AI-nya.
Di sisi lain, penggemar band Muse menilai langkah Meta tidak menghormati sejarah panjang penggunaan nama tersebut. Band yang telah berkarier lebih dari dua dekade itu membangun identitas mereknya jauh sebelum era media sosial modern. Pengambilalihan handle tanpa penjelasan resmi dinilai mengabaikan hak moral komunitas yang telah lama melekat pada nama tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Meta maupun manajemen band Muse mengenai detail kesepakatan. Publik masih menantikan klarifikasi apakah pengambilalihan username ini dilakukan melalui jalur hukum, negosiasi bisnis, atau mekanisme internal platform. Ketidakjelasan ini berpotensi memicu diskusi lebih luas soal etika penguasaan aset digital.
Peristiwa ini juga menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan platform milik Meta. Sebelumnya, perusahaan ini menghadapi berbagai sorotan terkait kebijakan konten, privasi pengguna, hingga persoalan iklan di platformnya. Isu pengambilalihan username dari band Muse menjadi babak baru dalam perdebatan soal kekuatan korporasi teknologi terhadap entitas yang lebih kecil.
Bagi para pengamat industri digital, kasus ini menjadi pengingat bahwa username media sosial bukan sekadar identitas, melainkan aset bernilai tinggi. Perusahaan besar memiliki daya tawar dan akses yang jauh lebih besar dibanding individu maupun kelompok kecil. Hal ini menimbulkan pertanyaan soal perlindungan hak pengguna lama ketika berhadapan dengan kepentingan korporasi raksasa.
Sejumlah warganet juga menyoroti bagaimana Meta dapat mengambil alih username tanpa proses yang transparan. Mereka mendesak adanya aturan yang lebih jelas mengenai perpindahan handle, terutama jika melibatkan entitas yang telah lama menggunakan nama tersebut. Transparansi dianggap kunci untuk menjaga kepercayaan publik terhadap ekosistem platform digital.
Terlepas dari pro dan kontra, kasus band Muse dan Meta ini menunjukkan bahwa pertarungan atas identitas digital semakin kompleks di era AI. Ketika teknologi terus berkembang, benturan antara warisan budaya pop dan kepentingan korporasi berpotensi semakin sering terjadi. Publik pun menantikan bagaimana penyelesaian kasus ini ke depannya.