Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Mitsubishi Siapkan Outlander dan RVR Hybrid untuk Pasar Jepang 2028
SHARE:

Jakarta – Mitsubishi Motors dikabarkan akan memproduksi dan menjual mobil hybrid (HEV) berukuran penuh di Jepang mulai tahun 2028. Langkah ini menjadi strategi baru pabrikan asal Jepang tersebut untuk menjawab permintaan pasar domestik yang terus tumbuh.

Dua model andalan, yaitu Outlander dan RVR kompak, akan menjadi basis untuk lini hybrid perdana yang diproduksi di dalam negeri. Keputusan ini diambil setelah pasar hybrid Jepang mencatatkan penjualan lebih dari 1,5 juta unit pada 2025, atau setara 60 persen dari total penjualan mobil baru di luar segmen kei.

Sebaliknya, penjualan plug-in hybrid (PHEV) dan baterai listrik (BEV) masing-masing hanya mencapai kurang dari 50.000 unit pada tahun yang sama. Data ini menunjukkan bahwa konsumen Jepang lebih memilih teknologi hybrid konvensional yang lebih terjangkau.

Keputusan ini sebenarnya menandai perubahan haluan dari strategi Mitsubishi yang selama ini berfokus pada teknologi PHEV. Pada 2013, Mitsubishi meluncurkan Outlander PHEV yang menjadi SUV PHEV pertama di dunia dan sempat menjadi model terlaris di segmennya secara global, terutama di Eropa.

Meski demikian, Mitsubishi mulai memproduksi dan menjual HEV di Asia Tenggara pada 2024 dengan memanfaatkan pengalaman dari teknologi PHEV, terutama pada sistem manajemen baterai. Pada 2026, Mitsubishi mengumumkan investasi sebesar PHP 7 miliar untuk produksi HEV di Filipina.

Namun, pabrikan ini sebelumnya enggan memproduksi atau menjual model hybrid konvensional di pasar domestiknya. Sejarah elektrifikasi Mitsubishi diwarnai oleh sejumlah pencapaian awal yang diikuti oleh fokus produk yang sempit.

i-MiEV yang diluncurkan pada 2009 untuk pelanggan armada di Jepang dianggap sebagai BEV pertama yang diproduksi massal dan mampu melaju di jalan raya. Sayangnya, Mitsubishi menghentikan model ini pada 2017 tanpa penerus langsung dan mengalihkan sumber daya ke PHEV.

Alasan di balik keputusan ini cukup sederhana: pasar dan infrastruktur saat itu belum siap untuk teknologi yang mereka jual. Konsentrasi pada PHEV memang membuahkan hasil komersial karena Outlander PHEV mampu menopang merek Mitsubishi selama satu dekade yang sulit.

Namun, strategi ini membuat Mitsubishi tertinggal dari pesaing seperti Toyota dan Hyundai yang membangun lini kendaraan elektrifikasi yang lebih luas. Rencana hybrid 2028 menjadi indikasi paling jelas bahwa harga PHEV telah menjadi batasan, bukan lagi nilai jual.

Mitsubishi memposisikan PHEV sebagai teknologi jembatan menuju elektrifikasi penuh, tetapi di pasar Jepang teknologi itu terbukti terlalu mahal bagi sebagian besar pembeli. Akibatnya, konsumen Jepang secara konsisten memilih HEV standar yang lebih murah dalam volume yang jauh melampaui penjualan PHEV dan BEV.

Mitsubishi menargetkan 50 persen penjualan globalnya berasal dari kendaraan elektrifikasi pada 2030. Penjualan domestik Mitsubishi di Jepang mencapai 122.000 unit pada tahun fiskal 2025, naik 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, namun pangsa pasar domestik masih di atas 2 persen.

Menambahkan HEV standar ke lini Outlander dan RVR menjadi mekanisme utama untuk menutup kesenjangan tersebut. Mitsubishi berharap memasuki segmen yang sudah mapan dengan risiko yang lebih kecil daripada tidak mengambil tindakan sama sekali.

Proyeksi GlobalData pada akhir tahun fiskal 2025 menunjukkan bahwa penjualan HEV global akan mencapai sekitar 19 juta unit pada 2030. Angka ini naik 1,6 juta unit dari perkiraan sebelumnya karena perubahan kebijakan elektrifikasi di Eropa dan AS mendongkrak permintaan jangka panjang.

Toyota, kompetitor utama, telah mengonfirmasi rencana menaikkan produksi HEV dan PHEV sebesar 30 persen pada 2028. Investasi ini terutama dilakukan melalui pabrik di Amerika Utara, sementara General Motors dan Hyundai juga memulai pengembangan hybrid bersama.

Bahkan pemain murni listrik seperti Xiaomi dikabarkan mempertimbangkan opsi hybrid saat berekspansi ke pasar global. Mitsubishi dengan jadwal 2028 berada di dalam ekspansi industri secara luas, bukan di depannya, tetapi arah perjalanan kini jelas dibagikan oleh banyak pihak.

Dorongan HEV domestik juga mencerminkan menurunnya keandalan sumber pendapatan Mitsubishi lainnya. Laba operasi dari pasar ASEAN yang mencakup sekitar 30 persen dari total penjualan turun menjadi JP¥19,8 miliar pada tahun fiskal 2024 dari JP¥63,6 miliar pada tahun fiskal 2019.

Penurunan ini dipicu oleh persaingan ketat dari produsen China dan pelemahan ekonomi di Thailand dan Indonesia. Tekanan tarif di AS yang sebelumnya mengkompensasi penurunan di Asia Tenggara kini menambah ketidakpastian bagi Mitsubishi.

Dengan pilar-pilar pendapatan tersebut tertekan, pentingnya pasar Jepang semakin meningkat. Lini HEV yang mampu bersaing untuk 1,5 juta pembeli tahunan yang hampir secara eksklusif dilayani oleh Toyota dan Honda kini menjadi prioritas yang mendesak bagi Mitsubishi.

Langkah Mitsubishi ini juga relevan dengan perkembangan pasar otomotif di kawasan lain, termasuk Indonesia yang terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai tren mobil listrik, Anda dapat menyimak liputan tentang Honda di JMS 2025 dan mobil listrik pertama Honda untuk Indonesia.

SHARE: