Jakarta — Technologue.id melaporkan, modus penipuan berkedok investasi kripto semakin marak di China dengan memanfaatkan aplikasi komunikasi bisnis Microsoft Teams. Para pelaku menggunakan platform resmi dari perusahaan teknologi terpercaya ini untuk meyakinkan korban, sehingga banyak orang yang terjebak dalam skema yang dikenal sebagai "pig-butchering" scam.
Seorang korban yang hanya mau disebut Zhao mengaku kehilangan seluruh uangnya setelah diiming-imingi keuntungan besar dari proyek investasi mata uang kripto. Ia bahkan meminjam uang dari beberapa bank untuk menambah modal investasinya, namun pelaku kemudian menghilang tanpa jejak.
Zhao mengaku tidak curiga karena sebelumnya pernah menggunakan aplikasi tersebut dan menganggap produk Microsoft dapat dipercaya. Setelah beralih ke Teams, pelaku mulai membangun hubungan asmara dan memperkenalkan proyek investasi kripto yang dijanjikan memberikan profit lebih cepat daripada trading saham.
Setelah berbagi pengalaman di media sosial, Zhao mendapat kabar dari puluhan korban lain di China dengan pola penipuan yang sama. Kerugian yang dilaporkan bervariasi antara 1.500 hingga 300.000 dolar AS, dan hanya satu korban yang berhasil memulihkan sebagian dananya.
Polisi setempat bahkan telah mengeluarkan peringatan resmi yang menyebut Teams sebagai alat yang digunakan penipu. Salah satu institusi bahkan menggambarkannya sebagai "aplikasi terkait penipuan" karena kasus yang terus berulang.
Platform media sosial China seperti Maimai juga telah mengambil langkah antisipasi dengan memberikan peringatan otomatis kepada pengguna. Sistem mereka mendeteksi kata kunci berisiko tinggi seperti "Teams" dan "Skype" untuk mencegah pengguna menjadi korban penipuan.
Baca Juga:
Analisis WIRED terhadap ulasan Teams di App Store China selama 18 bulan terakhir mengungkapkan temuan mengejutkan. Dari 500 ulasan yang dianalisis, 30 persen di antaranya berisi keluhan eksplisit tentang penipuan, dengan ulasan tertua yang menyebut praktik ini sudah ada sejak 2022.
Seorang korban menulis ulasan bahwa ia ditipu hingga 1,48 juta yuan atau sekitar 220.000 dolar AS dan polisi telah membuka kasus. Ia menegaskan bahwa ini adalah "pig-butchering" scam yang harus diwaspadai masyarakat.
Microsoft menyatakan pelaku penipuan rutin mengeksploitasi merek dan platform komunikasi tepercaya untuk melakukan skema rekayasa sosial. Perusahaan mengaku terus menyelidiki laporan penyalahgunaan dan memperkuat perlindungan untuk mengidentifikasi aktivitas penipuan.
Sejak Juni lalu, Microsoft mulai menampilkan banner peringatan kepada pengguna Teams di China tentang penipuan umum. Perusahaan juga menghentikan versi personal Teams di China dan layanan kini hanya tersedia melalui akun perusahaan.
Modus serupa juga dilaporkan terjadi pada aplikasi lain seperti Webex milik Cisco dan Cliq dari Zoho. Analisis WIRED menunjukkan 71 persen dari 150 ulasan Webex di App Store China sejak Februari 2025 merujuk pada pengalaman ditipu di platform tersebut.
Zoho mengakui menemukan sejumlah kasus penipuan menggunakan Cliq dan telah mengambil tindakan tegas. Perusahaan menonaktifkan pembayaran online untuk Cliq di China dan menghentikan versi gratis aplikasi tersebut.
Para penipu memanfaatkan fitur enterprise Teams dengan membuat akun untuk korban dan mengirimkan kredensial login yang sudah disiapkan. Karena penipu mengendalikan organisasi, mereka dapat menonaktifkan akun setelah skema selesai sehingga korban kehilangan akses ke riwayat chat yang bisa menjadi bukti.
Microsoft Teams menjadi aplikasi ideal bagi penipu karena tidak diblokir pemerintah China, berbeda dengan Telegram atau WhatsApp. Aplikasi ini juga memiliki fitur berbagi layar dan kendali jarak jauh yang memungkinkan penipu mengontrol perangkat korban.
Dibandingkan aplikasi pesan China yang sudah terbiasa menangani penipuan investasi, platform Barat dinilai kurang siap menghadapi masalah ini. Aplikasi seperti WeChat dan Xiaohongshu secara rutin menandai risiko penipuan saat mendeteksi kata kunci terkait investasi dan pembayaran, bahkan dalam percakapan pribadi.
Kasus penipuan serupa juga pernah terjadi di Indonesia dengan modus deepfake Elon Musk yang menawarkan investasi kripto palsu. Masyarakat perlu berhati-hati terhadap tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan tidak wajar, termasuk aplikasi investasi bodong yang banyak beredar di platform digital.
Bagi yang ingin mulai berinvestasi kripto dengan aman, penting untuk mengenal aset kripto yang memiliki potensi cuan namun tetap memperhatikan aspek keamanan dan legalitas platform yang digunakan.