Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Pilates Bukan Sekadar Peregangan, Ini Penjelasan Lengkapnya
SHARE:

Jakarta, Technologue.id – Gerakan Pilates kerap terlihat perlahan dan sederhana. Namun, di balik gerakannya yang terkontrol, latihan ini menuntut kekuatan otot, koordinasi, keseimbangan, hingga kemampuan mengatur napas.

Head Coach VAURA Pilates Menteng, Camila Arreaga, menyebut Pilates sebagai "strength training with a brain". Menurutnya, metode ini adalah latihan kekuatan yang melibatkan kesadaran dan kontrol tubuh secara penuh.

Camila menegaskan, Pilates bukan sekadar peregangan atau latihan untuk menguatkan otot perut. Metode ini mengajarkan seseorang menggerakkan tubuh secara terarah dengan memperhatikan posisi tubuh, napas, dan tenaga.

"Pilates bukan hanya soal stretching atau melatih core. Ini adalah metode latihan yang mengajarkan tubuh untuk bergerak dengan kontrol dan tujuan, bukan sekadar mengandalkan momentum," jelas Camila.

Pemahaman tersebut menjadi penting di tengah popularitas Pilates sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Olahraga ini kerap diasosiasikan dengan gerakan anggun, suasana studio yang nyaman, hingga tren kebugaran di media sosial.

Padahal, ada prinsip latihan yang lebih mendasar di baliknya. Hal ini sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap berbagai aktivitas kebugaran, seperti terlihat pada Tren Penjualan Produk Olahraga yang terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

Mengapa Reformer Pilates Terlihat Mudah, tetapi Menantang?

Salah satu peralatan yang identik dengan Pilates modern adalah Reformer. Alat ini memiliki bantalan bergerak atau carriage, pegas, serta tali yang digunakan untuk membantu atau memberikan resistensi selama latihan.

Bagi pemula, bentuknya mungkin terlihat rumit. Namun, menurut Camila, fungsi Reformer pada dasarnya membantu seseorang melakukan gerakan dengan lebih terarah.

Pegas pada alat tersebut dapat memberikan bantuan dalam gerakan tertentu. Namun, pegas juga bisa menjadi sumber resistensi yang harus dikendalikan oleh penggunanya.

Tingkat tantangannya bergantung pada gerakan, posisi tubuh, dan cara seseorang mengontrol alat. Semakin presisi kontrolnya, semakin besar pula tantangan yang dirasakan.

"Orang melihat gerakannya yang perlahan dan terkontrol lalu mengira mudah. Padahal justru karena gerakannya lambat dan penuh kontrol, latihannya terasa menantang. Kita tidak bisa bersembunyi di balik momentum," ujarnya.

Selain Reformer, ada Mat Pilates yang dilakukan di atas matras dengan memanfaatkan berat tubuh dan gravitasi sebagai resistensi. Camila mengibaratkan Mat Pilates sebagai tempat untuk mempelajari dasar-dasar gerakan.

Sementara itu, Reformer menyediakan lebih banyak variasi alat untuk menerapkan prinsip tersebut. Keduanya memiliki karakteristik berbeda, tetapi sama-sama berangkat dari prinsip kontrol dan ketepatan gerakan.

Pilates dan Yoga Tidak Sama

Pilates juga sering disamakan dengan yoga karena keduanya melibatkan pernapasan dan kesadaran terhadap tubuh. Meski memiliki beberapa kesamaan, keduanya berasal dari tradisi dan pendekatan latihan yang berbeda.

Pilates dikembangkan oleh Joseph Pilates lebih dari satu abad lalu melalui metode yang dikenal sebagai Contrology. Prinsip utamanya mencakup kontrol, presisi, pernapasan, serta koordinasi antara pikiran dan tubuh.

Dalam praktiknya, Pilates berfokus pada pengondisian fisik melalui gerakan yang terkontrol. Latihannya dapat melibatkan kekuatan otot inti, stabilitas, keseimbangan, dan koordinasi gerak.

Karena itu, Pilates tidak tepat jika hanya dipahami sebagai olahraga peregangan. Meski unsur fleksibilitas dapat dilibatkan, latihan ini juga membutuhkan kekuatan dan konsentrasi tinggi.

Seiring berkembangnya teknologi kebugaran, pemantauan aktivitas fisik kini juga dapat dilakukan melalui perangkat wearable. Garmin, misalnya, mengajak pengguna untuk Pantau Kesehatan Fisik dan mental melalui teknologi yang tertanam di perangkat mereka.

Dari Cedera hingga Menemukan Metode Latihan yang Tepat

Pemahaman Camila mengenai Pilates juga terbentuk dari pengalaman pribadinya. Ia pertama kali mengenal Mat Pilates sekitar 10 tahun lalu di Guatemala, ketika masih mengajar berbagai kelas kebugaran.

Latar belakangnya di dunia tari jazz, kontemporer, dan Latin membuatnya terbiasa dengan keseimbangan, presisi, serta kontrol gerak. Saat itu, Pilates masih dianggapnya sebagai latihan yang lebih tenang untuk melengkapi olahraga berintensitas tinggi.

Pandangan tersebut berubah setelah ia mengalami serangkaian cedera pada lutut, pergelangan kaki, dan pinggul akibat aktivitas lari.

"Saya sadar bahwa sekadar membangun kekuatan otot belum cukup. Saya perlu memahami bagaimana tubuh bergerak melalui setiap rentang geraknya dengan kekuatan yang terkontrol," ungkapnya.

Awalnya, Camila mempelajari Pilates karena ingin mengajarkannya. Namun, ketika mulai mendalami metode tersebut, ia justru menemukan pendekatan latihan yang melengkapi rutinitas kebugarannya.

Pengalaman itu membuatnya melihat Pilates sebagai salah satu pilihan untuk membantu seseorang memahami pola gerak tubuh secara lebih menyeluruh. Meski demikian, Pilates bukan pengganti pemeriksaan maupun penanganan medis bagi orang yang mengalami cedera.

Bukan Pengganti Gym atau Olahraga Favorit

Menurut Camila, Pilates tidak harus menggantikan olahraga yang sudah rutin dilakukan. Sebaliknya, metode ini dapat menjadi pelengkap bagi orang yang gemar berlari, mengangkat beban, bermain golf, berolahraga raket, menari, maupun berlatih di gym.

Pelari, misalnya, terbiasa melakukan gerakan dominan ke arah depan. Pilates dapat memperkenalkan variasi gerak, termasuk gerakan ke samping dan rotasi, sesuai program latihan yang diberikan instruktur.

Sementara itu, orang yang terbiasa mengangkat beban dapat menemukan tantangan berbeda ketika harus melakukan gerakan secara presisi tanpa selalu mengandalkan beban berat.

Namun, kebutuhan setiap orang tidak sama. Pemilihan jenis dan intensitas latihan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi fisik, pengalaman berolahraga, serta tujuan kebugaran masing-masing.

Camila menilai, anggapan bahwa Pilates hanya berkaitan dengan rehabilitasi atau peregangan membuat banyak orang belum memahami cakupan metode ini.

"Pilates memang punya peran dalam rehabilitasi, dan tentu ada unsur stretching di dalamnya. Tetapi kalau Pilates hanya dipahami sebatas itu, kita kehilangan gambaran besarnya," kata Camila.

Perkembangan laporan seputar kebugaran masyarakat juga menunjukkan bahwa minat terhadap olahraga terus bergeser. Hal ini tergambar dalam Laporan Tahunan Olahraga yang dirilis Garmin untuk pasar Indonesia.

Bukan Cuma Tren Wellness di Media Sosial

Popularitas Pilates di media sosial turut membentuk citra olahraga ini sebagai bagian dari gaya hidup tertentu. Padahal, latihan Pilates dapat disesuaikan untuk berbagai kelompok usia dan tingkat kebugaran dengan pendampingan yang tepat.

Bagi orang yang lebih muda, latihan dapat diarahkan pada pengembangan kekuatan dan kualitas gerak. Sementara itu, bagi kelompok usia yang lebih matang, latihan yang sesuai dapat membantu menjaga keseimbangan, kontrol gerak, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.

Di VAURA Pilates Menteng, prinsip dasar tersebut diterapkan melalui kelas athletic Reformer Pilates yang memadukan gerakan terkontrol dengan musik, ritme, dan rangkaian latihan yang lebih dinamis.

Pendekatan itu berupaya menghadirkan pengalaman latihan yang relevan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan, tanpa meninggalkan prinsip dasar Pilates.

Pada akhirnya, Pilates tidak harus dilihat dari tampilannya di media sosial. Memahami teknik, mengenali kemampuan tubuh, dan berlatih sesuai kebutuhan menjadi bagian penting sebelum menjadikan olahraga ini sebagai rutinitas.

Bagi siapa pun yang ingin mencoba, kelas pemula dengan instruktur yang kompeten dapat menjadi langkah awal untuk mengenal gerakan, teknik pernapasan, dan kontrol tubuh secara bertahap.

SHARE:

LinkedIn: Lowongan AI Safety Naik 91%, Gaji Tembus Rp5 M

Mozilla Rilis Tampilan Baru Firefox untuk Desktop dan Mobile