Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Robert Pattinson Jadi Jurnalis Pemburu Predator Online di Film Primetime
SHARE:

Jakarta, Technologue.id - Robert Pattinson tampil dalam mode berbeda lewat trailer terbaru film Primetime. Film ini membawa kisah jurnalis televisi Chris Hansen ke layar lebar. Dalam film produksi A24 tersebut, Pattinson memerankan Hansen dengan karakter intens saat memburu predator seksual di internet.

Peran ini terasa cukup jauh dari karakter yang pernah Pattinson perankan sebelumnya. Kali ini, ia tampil sebagai jurnalis yang masuk ke operasi berisiko demi mendapatkan berita besar. Menariknya, Primetime tidak sekadar mengangkat aksi pembongkaran predator internet.

Film ini juga mengulik tekanan yang muncul ketika pekerjaan jurnalistik mulai mempertaruhkan reputasi dan karier. Primetime mengambil latar tahun 2006 ketika Chris Hansen sedang berada dalam periode penting kariernya. Saat itu, Hansen terkenal luas melalui program To Catch a Predator di Dateline NBC.

Program tersebut mengikuti operasi untuk mengidentifikasi orang dewasa yang menghubungi anak di bawah umur secara seksual. Hansen dan timnya memantau percakapan online sebelum menjalankan operasi penyamaran. Para tersangka kemudian diarahkan menuju lokasi yang sudah tim siapkan.

Polisi selanjutnya menangkap mereka ketika tiba di lokasi tersebut. Namun, Primetime mencoba melihat cerita itu dari sudut yang lebih luas. Film ini ikut menggambarkan tekanan Hansen ketika mengejar sebuah berita yang bisa mengubah kariernya.

Dengan begitu, penonton tidak hanya melihat aksi investigasi yang menegangkan. Kamu juga akan melihat sisi personal dan profesional Hansen di balik kamera. Dalam trailer terbaru, Robert Pattinson terlihat serius menjalankan perannya sebagai Hansen.

Ekspresinya menggambarkan seorang jurnalis yang terus mengejar target di tengah situasi penuh tekanan. Latar cerita membuat suasana film terasa gelap dan cukup mengganggu. Apalagi, operasi yang dilakukan Hansen berkaitan dengan kejahatan seksual terhadap anak.

Meski demikian, film ini tidak hanya menjual sisi sensasional dari kasus tersebut. Lance Oppenheim, sutradara Primetime, juga membawa fokus pada konsekuensi pekerjaan Hansen. Film ini sekaligus menjadi debut penyutradaraan film panjang bagi Oppenheim.

Sebelumnya, namanya terkenal melalui karya dokumenter yang mengamati kehidupan manusia dari sudut pandang unik. Primetime telah melakukan pemutaran perdana dunia di Venice Film Festival. Respons awal terhadap film tersebut juga terlihat positif dari sejumlah ulasan yang sudah muncul.

Saat ini, film tersebut mencatat skor 94 persen di Rotten Tomatoes. Angka itu berasal dari 33 ulasan yang tercatat pada platform tersebut. Namun, ada cerita berbeda dari Chris Hansen sendiri.

Hansen justru memberikan tanggapan negatif terhadap film yang mengangkat kisah hidupnya tersebut. Menurut Hansen, Primetime terasa jauh lebih gelap dan dramatis daripada kenyataan. Ia juga tidak menghadiri pemutaran perdana di Venice karena menolak menandatangani NDA sebelum menonton film.

Perbedaan pandangan tersebut tentu membuat film ini semakin menarik perhatian. Penonton nantinya bisa melihat bagaimana Hollywood menginterpretasikan perjalanan seorang jurnalis kontroversial tersebut. Selain Robert Pattinson, Primetime menghadirkan jajaran pemeran yang cukup ramai.

Merritt Wever, Skyler Gisondo, Phoebe Bridgers, dan Matthew Maher turut tampil dalam film ini. Bokeem Woodbine, Jessica Hecht, Jonathan Lipnicki, dan Tony Revolori juga bergabung dalam jajaran pemeran. Selain itu, Creed Bratton, Alex Winter, dan Sean Bridgers ikut memperkuat cerita.

Anna Faris juga mendapat peran sebagai Mary Joan Hansen. Karakter tersebut merupakan istri Chris Hansen dalam cerita film. Kehadiran banyak aktor tersebut membuat Primetime tidak hanya bertumpu pada Pattinson.

Setiap karakter berpotensi memperluas cerita tentang dunia Hansen di balik operasi investigasi. Skenario Primetime ditulis oleh Ajon Singh. Ia mengembangkan cerita berdasarkan artikel Esquire karya Luke Dittrich yang terbit pada 2007.

Pattinson juga terlibat di balik layar sebagai salah satu produser film. Ia memproduseri film tersebut bersama sejumlah nama lainnya, termasuk Ari Aster. Keterlibatan Pattinson sebagai produser membuat proyek ini terasa semakin personal.

Ia tidak hanya menjalankan karakter utama, tetapi juga ikut terlibat dalam proses produksi film. Sementara itu, Oppenheim bertugas mengarahkan film panjang pertamanya. Kombinasi tersebut membuat Primetime menjadi proyek yang cukup menarik sebelum resmi tayang.

Nama Chris Hansen sebelumnya sudah sangat dikenal lewat To Catch a Predator. Program tersebut menjadi salah satu tayangan yang mengangkat investigasi terhadap predator seksual melalui percakapan internet. Primetime kemudian membawa kisah tersebut ke format film drama.

Cerita ini memberi ruang lebih luas untuk mengeksplorasi tekanan yang dialami Hansen. Di satu sisi, Hansen harus mengejar informasi untuk kebutuhan pemberitaan. Di sisi lain, ia harus menghadapi risiko yang muncul dari operasi tersebut.

Konflik tersebut menjadi salah satu daya tarik utama Primetime. Film ini mempertemukan dunia jurnalistik, investigasi, teknologi internet, dan persoalan sosial dalam satu cerita. Bagi Pattinson, karakter Hansen juga menawarkan ruang akting yang cukup berbeda.

Ia kini tidak bermain sebagai karakter fiksi dengan kekuatan super atau sosok misterius. Sebaliknya, Robert Pattinson harus memerankan figur nyata yang memiliki sejarah panjang di televisi Amerika. Tantangan tersebut membuat penampilannya sebagai Hansen menjadi salah satu hal yang paling ditunggu.

Setelah menjalani pemutaran perdana di Venice Film Festival, Primetime akan segera menyapa penonton lebih luas. Film tersebut tayang di bioskop pada 25 September 2026. Dengan Robert Pattinson sebagai pemeran utama, film ini membawa pendekatan berbeda terhadap kisah Chris Hansen.

Apalagi, respons awal kritikus dan komentar Hansen sendiri memberikan dua sudut pandang yang menarik. Primetime menyatukan drama, investigasi, dan tekanan dunia jurnalistik dalam satu cerita yang intens. Film ini juga menjadi bukti bahwa kisah di balik layar jurnalisme investigasi punya daya tarik tersendiri.

SHARE: