Jakarta — China mencatat sejarah baru dalam eksplorasi antariksa setelah berhasil mendaratkan roket reusable pertamanya. Melalui Technologue.id, keberhasilan ini menandai langkah besar Negeri Tirai Bambu dalam mengejar ketertinggalan dari SpaceX milik Elon Musk.
Roket Long March-10B berhasil mendaratkan tahap boosternya pada Jumat lalu. Ini menjadi pertama kalinya China meluncurkan dan mengembalikan roket orbital reusable dengan selamat ke Bumi.
Dengan pencapaian ini, China Aerospace Science and Technology Corp (CASC) bergabung dengan SpaceX dan Blue Origin. Keduanya merupakan organisasi yang sebelumnya sukses mendaratkan booster roket.
Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, menyebut ini sebagai lompatan besar. "Ini adalah lompatan besar menuju kemampuan peluncuran reusable," tulisnya dalam unggahan di platform X.
Media lokal melaporkan bahwa tahap pertama roket Long March mendarat di tongkang sekitar enam menit setelah peluncuran. Roket tersebut ditangkap oleh jaring besar, yang disebut sebagai pemulihan berbasis jaring pertama di dunia.
Mendaratkan booster tahap pertama merupakan tonggak penting dalam membangun roket reusable. Teknologi ini secara signifikan menurunkan biaya peluncuran ke luar angkasa.
SpaceX berhasil mendaratkan booster pertamanya pada 2015. Sejak itu, perusahaan Musk telah meluncurkan dan mendaratkan roket Falcon 9 ratusan kali.
Pada 2024, SpaceX mengejutkan dunia dengan menangkap booster superheavy setinggi hampir 400 kaki. Booster yang mendorong Starship ke orbit itu ditangkap oleh lengan chopstick menara peluncuran "Mechazilla".
Blue Origin juga mencatatkan pendaratan booster pertamanya pada November lalu. Tahap pertama roket New Glenn berhasil mendarat di platform di Samudra Atlantik.
Namun, perusahaan Bezos kemudian mengalami kemunduran. Roket New Glenn meledak di landasan peluncuran pada Mei lalu.
Pendaratan booster ini menjadi langkah signifikan menuju ambisi China mengejar SpaceX. Perusahaan Musk meluncurkan lebih banyak material ke orbit dibanding negara atau perusahaan mana pun.
Baca Juga:
China juga berupaya membangun saingan layanan internet satelit Starlink. Perusahaan milik negara SpaceSail telah meluncurkan sekitar 200 satelit ke orbit sejak 2024.
Jumlah itu masih jauh tertinggal dari Starlink yang memiliki sekitar 10.000 satelit di orbit rendah Bumi. China masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Roket Long March China juga masih kalah dari Falcon 9 milik SpaceX. Kapasitas muatan maksimal Long March mencapai 16 ton, sementara Falcon 9 mampu membawa 25 ton.
Starship, generasi terbaru SpaceX, bahkan direncanakan membawa lebih dari 100 ton. Meski begitu, Elon Musk mengakui bahwa roket reusable China mulai mendekati kemampuan Falcon 9.
"Mereka telah menambahkan aspek Starship, seperti penggunaan stainless steel dan methalox, ke arsitektur Falcon 9," tulis Musk di X pada Oktober. "Ini memungkinkan mereka mengalahkan Falcon 9."
"Tapi Starship berada di liga yang berbeda," tambah Musk. Pernyataan ini menunjukkan persaingan antariksa global semakin memanas.
Keberhasilan China ini juga relevan dengan perkembangan industri lain di negara tersebut. Misalnya, penjualan mobil China yang menunjukkan tren berbeda antara pasar domestik dan ekspor.
Di sektor otomotif, BYD memimpin penjualan mobil China pada Desember 2025. Sementara itu, ponsel China meroket di tengah penurunan pengiriman iPhone global.
Pencapaian ini membuktikan bahwa China serius dalam persaingan antariksa global. Negeri Tirai Bambu kini menjadi pemain ketiga yang berhasil mendaratkan booster roket setelah SpaceX dan Blue Origin.