Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Senator AS Selidiki Risiko Privasi Kacamata AI Meta
SHARE:

Jakarta - Dua senator Amerika Serikat, Ron Wyden dari Partai Demokrat asal Oregon dan Edward Markey dari Massachusetts, tengah menyelidiki "risiko privasi dan keselamatan serius" yang melingkupi kacamata pintar AI milik Meta. Keduanya melayangkan surat resmi kepada CEO Meta, Mark Zuckerberg, untuk meminta penjelasan atas sejumlah insiden yang dinilai meresahkan.

Dalam surat tersebut, Wyden dan Markey menyoroti sejumlah kasus di mana kacamata pintar Meta terlibat dalam pelanggaran privasi pengguna maupun orang-orang di sekitar pemakainya. Mereka menilai Meta tetap meluncurkan produk tersebut meski sudah mengidentifikasi adanya risiko terhadap privasi orang lain.

"Kacamata pintar Meta semakin sering tersangkut dalam invasi privasi pengguna dan orang di sekitar yang meresahkan," tulis kedua senator dalam suratnya kepada Zuckerberg, seperti dikutip dari Engadget.

Para senator mengangkat sejumlah laporan media, termasuk pemberitaan 404 Media dan BBC, tentang pria yang diam-diam merekam perempuan menggunakan kacamata pintar Meta. Rekaman tersebut kemudian disebarkan ke media sosial, bahkan disertai tindakan pelecehan terhadap korban.

Selain itu, laporan lain dan sebuah gugatan hukum mengungkap bahwa kontraktor AI Meta mengaku pernah meninjau rekaman yang diambil kacamata pintar tersebut. Rekaman itu memperlihatkan orang-orang sedang membuka pakaian hingga melakukan aktivitas seksual.

Wyden dan Markey pun mengajukan sejumlah pertanyaan spesifik kepada Meta. Mereka ingin tahu bagaimana perusahaan menangani risiko aktivasi kamera secara tidak sengaja serta kemungkinan manipulasi indikator perekaman pada kacamata pintar tersebut.

Keduanya juga mempertanyakan apakah kacamata pintar Meta mampu mengaburkan wajah dan pelat nomor kendaraan untuk interaksi AI tertentu, sebagaimana yang diterapkan Meta di Facebook dan Instagram. Hal ini menjadi penting mengingat potensi penyalahgunaan data visual oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu, para senator meminta penjelasan mengenai kondisi apa saja yang membuat rekaman dapat diakses oleh karyawan atau kontraktor Meta. Mereka juga ingin mengetahui kapan rekaman tersebut digunakan untuk melatih model AI perusahaan.

Mengacu pada dokumen internal Meta sendiri, Wyden dan Markey menanyakan apakah perusahaan telah melakukan uji tuntas hak asasi manusia secara rinci dan pengujian keselamatan pada kacamata pintarnya sebelum dirilis ke pasar. Meta diminta memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut paling lambat 26 November 2026 atau bertepatan dengan perayaan Thanksgiving.

Daftar keluhan terhadap kacamata pintar Meta memang panjang. Selain kasus yang disorot kedua senator, sejumlah pengguna mengaku kacamata tersebut merekam percakapan mereka tanpa persetujuan setelah pembaruan firmware. Perangkat ini juga sempat terlihat digunakan agen ICE saat melakukan razia.

Unit kontraterorisme Kepolisian New York City bahkan dilaporkan sempat mengangkat kekhawatiran soal pengawasan terkait perangkat tersebut pada Januari tahun ini. Sebelumnya, pada Oktober, Gubernur California Gavin Newsom memveto rancangan undang-undang yang akan melarang penggunaan perangkat wearable untuk merekam orang secara diam-diam di area privat sebuah bisnis.

Meski demikian, Wyden dan Markey tampak lebih bertekad menekan raksasa media sosial itu agar bertanggung jawab. Keduanya menilai komitmen Meta terhadap privasi dan pencegahan penyalahgunaan gambar intim hanya omong kosong jika perusahaan tidak mampu menunjukkan langkah nyata.

"Komitmen Meta yang diklaim untuk melindungi privasi dan mencegah penyalahgunaan gambar intim akan terasa hampa jika perusahaan tidak dapat menunjukkan langkah berarti untuk mencegah produk dan praktiknya sendiri memfasilitasi bahaya tersebut," tegas kedua senator kepada Zuckerberg.

Isu privasi pada perangkat wearable memang bukan hal baru. Sebelumnya, Apple Tunda Rilis kacamata pintarnya demi menjaga privasi pengguna, sementara sejumlah laporan menyebut Kacamata Pintar Meta berpotensi disalahgunakan untuk doxing data individu.

Tekanan dari Senat AS ini menambah daftar panjang sorotan terhadap ekosistem AI Meta, termasuk lini produk cerdasnya. Di sisi lain, Meta terus mengembangkan kemampuan AI-nya, seperti Meta Rilis Muse yang disebut sebagai AI agent pribadi untuk mengotomatiskan tugas digital.

Perkembangan itu bahkan merambah ke kemampuan yang lebih canggih, di mana AI Agent Meta Muse dan Instinct dikabarkan kini bisa melakukan panggilan telepon ke restoran hingga dokter. Inovasi tersebut menunjukkan ambisi Meta memperluas jangkauan AI ke berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Namun, penyelidikan yang dibuka Wyden dan Markey menjadi pengingat bahwa inovasi perangkat pintar berbasis AI harus dibarengi dengan perlindungan privasi yang memadai. Publik kini menanti jawaban Meta atas sejumlah pertanyaan krusial tersebut sebelum tenggat 26 November 2026.

SHARE:

Osaka Tampilkan Ekosistem Fintech di Singapore FinTech Festival 2026

SMK Nusantara dan MAN 1 Sukabumi Juara AXIS Nation Cup 2026