Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Stres Kerja Picu Disfungsi Ereksi, Pria Muda Berisiko 10 Kali Lipat
SHARE:

Jakarta, Technologue.id – Stres akibat pekerjaan ternyata tidak hanya berdampak pada kondisi mental dan produktivitas. Tekanan kerja yang tinggi juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko disfungsi ereksi (DE) pada pria, terutama mereka yang masih berada di usia muda.

Sebuah penelitian terhadap 826 pria berusia 22 hingga 40 tahun yang bekerja penuh waktu menemukan hubungan antara tingginya tekanan psikologis di tempat kerja dan gangguan fungsi ereksi. Pria yang berada dalam kelompok dengan tingkat stres paling tinggi tercatat memiliki kemungkinan mengalami masalah ereksi hingga 10 kali lebih besar dibandingkan mereka yang mengalami stres rendah.

Penelitian tersebut menilai sejumlah faktor yang dapat memengaruhi tingkat stres di tempat kerja. Lima aspek yang diperhitungkan meliputi jumlah jam kerja dalam sepekan, keleluasaan dalam mengambil keputusan, dukungan dari atasan, hubungan dengan rekan kerja, serta tekanan untuk mendapatkan promosi.

Para peserta kemudian dikelompokkan berdasarkan tingkat stres yang mereka alami, mulai dari rendah, sedang-rendah, sedang-tinggi hingga tinggi. Hasil pengamatan menunjukkan fungsi ereksi cenderung menurun seiring dengan meningkatnya skor stres. Pada kelompok dengan tingkat stres paling tinggi, prevalensi disfungsi ereksi bahkan mencapai lebih dari 54 persen.

Stres Kerja Bisa Ganggu Ereksi, Pria Muda Berisiko 10 Kali Lebih Besar

Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan seksual pada pria muda tidak selalu berkaitan dengan faktor fisik atau usia. Ahli urologi bersertifikat dari Mount Sinai Hospital, Dr. Leon Telis, sebelumnya menjelaskan bahwa faktor psikologis memiliki peran besar dalam kasus disfungsi ereksi pada pria yang lebih muda.

“Sebagian besar kasus DE pada pria yang lebih muda disebut psikosomatis, yang pada dasarnya dipicu oleh stres dan kecemasan,” ujar Telis.

Penelitian tersebut juga mengukur kadar kortisol dan testosteron para peserta selama beberapa pekan. Kortisol merupakan hormon yang berkaitan erat dengan respons tubuh terhadap stres, sedangkan testosteron memiliki peran dalam gairah seksual dan fungsi seksual pria.

Hasil pengukuran menunjukkan peningkatan kortisol muncul lebih dahulu pada dua hingga empat pekan awal. Setelah itu, kadar testosteron mulai mengalami penurunan dan kondisi tersebut kemudian diikuti oleh munculnya masalah ereksi pada sekitar pekan keempat hingga keenam.

Jam kerja yang panjang serta tekanan untuk memperoleh promosi menjadi dua faktor yang paling kuat berkaitan dengan peningkatan kadar kortisol. Pria yang masuk dalam kelompok dengan tingkat stres tinggi diketahui rata-rata bekerja sekitar 65 jam dalam sepekan.

Beban kerja yang berlebihan dapat memengaruhi fungsi seksual melalui beberapa mekanisme. Waktu kerja yang panjang berpotensi menyebabkan kelelahan fisik dan kurang tidur. Pada saat yang sama, kesibukan tersebut dapat mengurangi waktu yang tersedia untuk kehidupan pribadi dan aktivitas seksual.

Tekanan untuk memperoleh promosi juga dapat menimbulkan respons emosional yang berkepanjangan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi gairah seksual sekaligus aktivitas seksual seseorang.

Sebaliknya, dukungan dari lingkungan kerja dapat membantu mengurangi tekanan psikologis. Hubungan yang baik dengan atasan dan rekan kerja juga dapat memberikan rasa memiliki kendali yang lebih besar terhadap pekerjaan.

Disfungsi ereksi selama ini kerap dianggap sebagai persoalan yang lebih banyak dialami pria berusia lanjut. Namun, meningkatnya kasus pada pria muda menunjukkan bahwa faktor psikologis dan gaya hidup perlu mendapat perhatian.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menyebut kombinasi penilaian terhadap tingkat stres psikologis dan pemeriksaan hormon dapat membantu mengidentifikasi pria muda yang berisiko mengalami disfungsi ereksi akibat faktor psikologis.

Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa masalah ereksi tidak selalu berdiri sendiri. Tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi tubuh secara biologis, termasuk hormon yang berhubungan dengan fungsi seksual pria.

SHARE:

Apple Watch Ultra 4 Resmi: Baterai 50 Jam, Harga Tetap Rp12,7 Juta

Apple Watch Series 12 dan Ultra 4 Resmi Dibuka Preorder