Jakarta, Technologue.id — Industri video dewasa atau AV di Jepang kembali menjadi sorotan publik. Kali ini sorotan datang dari pengakuan seorang mantan aktris, Aya Takanashi, yang membuka tabir soal ketatnya pengelompokan pemain berdasarkan usia.
Perempuan yang baru berusia 25 tahun bahkan disebut mulai diarahkan meninggalkan karakter muda. Ia pun mulai digeser menuju kategori yang lebih dewasa. Pengakuan ini ia sampaikan melalui kolom yang diterbitkan Nikkan Spa!, seperti dilansir Tokyo Reporter.
Takanashi menjelaskan bahwa industri AV maupun hiburan malam Jepang memiliki batas usia tidak tertulis. Aturan tak resmi itu sangat menentukan perjalanan karier seorang perempuan di sektor tersebut. Menurutnya, kategori perempuan "muda" umumnya hanya diberikan kepada pemain berusia sekitar 18 hingga 23 tahun.
Setelah melewati rentang usia tersebut, karakter yang ditawarkan mulai berubah. Perubahan itu terjadi meski penampilan fisik sang pemain masih terlihat jauh lebih muda. Ketika memasuki usia sekitar 25 tahun, seorang pemain biasanya mulai digeser menuju kategori "kakak perempuan" atau wakazuma.
Wakazuma sendiri merujuk pada karakter istri muda dalam industri tersebut. Pergeseran ini terjadi sebagai bagian dari strategi pemasaran berdasarkan segmentasi usia. Artinya, usia menjadi variabel bisnis yang menentukan citra dan pasar seorang pemain.
Situasi semakin ketat ketika seorang pemain melewati usia 30 tahun. Takanashi mengatakan bahwa pilihan karakter menjadi semakin terbatas. Tawaran yang datang cenderung mengarah pada karakter perempuan menikah atau hitozuma. Hal itu berlaku terlepas dari status pernikahan mereka yang sebenarnya.
"Meski mereka debut dengan karakter 'adik perempuan', mereka tidak punya banyak pilihan selain perlahan mengubah persona seiring bertambahnya usia," kata Takanashi.
Perubahan persona tidak hanya terjadi pada kategori pemasaran. Para pemain juga disebut harus mengubah gaya penampilan agar sesuai dengan karakter yang dianggap cocok. Busana yang memberikan kesan sangat muda mulai ditinggalkan. Gaya rambut dan riasan pun diarahkan menuju penampilan yang lebih dewasa.
Pergeseran tersebut mencerminkan bagaimana usia memainkan peran besar dalam menentukan citra seorang pemain. Industri AV Jepang sebenarnya mengenal praktik penggunaan usia karakter atau "usia layar". Dengan pendekatan itu, pemain berusia 27 tahun yang terlihat lebih muda masih bisa dipasarkan sebagai perempuan berusia sekitar 22 tahun.
Namun menurut Takanashi, praktik mengurangi usia hingga sepuluh tahun atau lebih semakin jarang digunakan. Perbedaan terlalu besar dinilai semakin sulit diterima. Sebab, informasi mengenai pemain kini semakin mudah ditemukan publik. Situasinya menjadi lebih keras ketika seorang pemain memasuki usia sekitar 35 tahun.
Baca Juga:
Menurut Takanashi, batas usia fiktif yang masih dianggap masuk akal biasanya berada di sekitar 28 tahun. Akibatnya, perempuan pada pertengahan usia 30-an otomatis lebih sering ditempatkan dalam kategori istri atau perempuan matang. Penampilan yang terlihat lebih muda tidak selalu cukup untuk mempertahankan kategori sebelumnya.
Status pernikahan sebenarnya juga bukan pertimbangan utama. Pemain yang belum menikah tetap dapat diarahkan memainkan karakter perempuan menikah. Klasifikasi tersebut lebih berhubungan dengan usia dan pemasaran dibandingkan kehidupan pribadi. Pilihan untuk menolak pun relatif terbatas.
Ketika usia sudah melewati kategori tertentu, pemain disebut semakin sulit mendapatkan tawaran. Segmen yang selama ini diasosiasikan dengan perempuan berusia muda pun perlahan tertutup. Meski terdengar merugikan, Takanashi menilai menerima perubahan karakter sejak akhir usia 20-an justru dapat menjadi strategi karier.
Transisi lebih awal memungkinkan pemain membangun basis penggemar di kategori baru. Hal itu bisa dilakukan sebelum usianya semakin bertambah. Sebaliknya, pemain yang terlalu lama mempertahankan persona perempuan sangat muda berpotensi mengalami masalah. Perubahan mendadak dapat membuat sebagian penggemar tidak lagi mengikuti perjalanan mereka.
Memulai atau beralih menjadi karakter kakak perempuan maupun istri muda dinilai memungkinkan transisi yang lebih halus. Transisi itu mengarah menuju kategori jukujo atau perempuan matang. Segmen tersebut tetap memiliki pasar tersendiri dalam industri AV Jepang.
Takanashi juga mengatakan bahwa persoalan usia tidak hanya terjadi dalam industri AV. Menurut dia, bisnis hostess dan hiburan malam Jepang justru dapat menerapkan standar usia yang lebih keras kepada pekerja perempuan. Perusahaan produksi AV masih mungkin menerima perempuan cantik berusia 40 tahun. Syaratnya, ia dianggap memiliki daya tarik dan cocok dengan kategori tertentu.
Situasinya berbeda dengan sejumlah tempat hiburan malam yang mempunyai konsep pelanggan sangat spesifik. Klub hostess disebut dapat menolak pelamar hanya berdasarkan angka usia pada kartu identitas. Penampilan yang terlihat jauh lebih muda belum tentu mampu mengubah keputusan perusahaan. Sebagai contoh, perempuan berusia 32 tahun yang dianggap menarik tetap berpotensi ditolak oleh klub yang menargetkan pekerja lebih muda.
Mereka kemudian diarahkan mencari pekerjaan di tempat yang melayani pasar perempuan berusia lebih matang. Perpindahan tersebut juga dapat membawa konsekuensi finansial. Penghasilan di tempat yang menargetkan kelompok usia lebih tua disebut berpotensi lebih rendah dibandingkan klub dengan pasar perempuan muda.
Pengakuan Takanashi menggambarkan kuatnya hubungan antara usia dan nilai komersial perempuan dalam sebagian industri hiburan Jepang. Bertambahnya usia dapat secara langsung mengubah karakter, pekerjaan, hingga segmen pasar yang tersedia. Karena kondisi tersebut, momentum debut menjadi salah satu faktor penting dalam membangun karier.
Pemain yang memasuki industri pada usia lebih muda dinilai mempunyai periode lebih panjang untuk membangun nama. Waktu itu mereka gunakan sebelum akhirnya harus beralih kategori. Namun, pengalaman Takanashi juga menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi dapat menentukan panjangnya perjalanan seorang pemain.
Menerima perubahan persona lebih awal justru bisa membuka kesempatan bertahan. Kesempatan itu terbuka ketika pasar untuk karakter muda mulai tertutup. Di balik citra industri yang sangat bergantung pada penampilan, usia akhirnya menjadi variabel bisnis yang menentukan. Bagi banyak perempuan di sektor tersebut, bertambahnya usia bukan hanya perubahan personal. Usia juga langsung memengaruhi cara industri melihat dan memasarkan mereka.