Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Wikimedia Soroti Kasus NYT vs OpenAI demi Masa Depan Web Terbuka
SHARE:

Jakarta, Technologue.id — Wikimedia Foundation resmi angkat bicara dalam gugatan hak cipta yang dilayangkan The New York Times terhadap OpenAI dan Microsoft. Yayasan di balik Wikipedia itu mengajukan amicus brief atau pendapat hukum sebagai pihak ketiga untuk mendorong putusan yang berimbang dalam perkara tersebut. Langkah ini menandai intervensi pertama organisasi nirlaba pengetahuan terbuka dalam sengketa AI yang berpotensi menjadi preseden besar.

Gugatan NYT berfokus pada penggunaan konten jurnalistik mereka untuk pelatihan model AI tanpa izin. Media tersebut menilai perusahaan seperti OpenAI tidak boleh bebas memakai karya terbitannya untuk kepentingan komersial. Sementara itu, OpenAI dan Microsoft berargumen bahwa pelatihan serta pengoperasian model AI berbasis data publik adalah keniscayaan teknologi. Keduanya menilai praktik itu masuk dalam kategori fair use atau penggunaan wajar.

Wikimedia Foundation memilih jalan tengah yang berbeda dari kedua kubu. Dalam amicus brief-nya, yayasan menilai fair use yang terlalu ketat justru bisa menghambat inovasi teknologi. Namun di sisi lain, putusan yang memberikan fair use secara menyeluruh juga berisiko melahirkan web tertutup. Kondisi itu disebut dapat melemahkan ekosistem pengetahuan karena minimnya sumber sekunder yang tersedia.

Sebagai alternatif, Wikimedia mengusulkan penerapan fair use pada dua skenario spesifik bagi perusahaan AI. Pertama, skenario pelatihan model tertentu yang menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda dari sumber aslinya. Kedua, teknik retrieval-augmented generation atau RAG yang memanfaatkan basis pengetahuan otoritatif di luar data pelatihan model bahasa besar (LLM).

Namun, dukungan terhadap RAG tidak berlaku tanpa syarat. Wikimedia menegaskan tidak mendukung praktik tersebut jika LLM hanya mereproduksi artikel yang sudah ada tanpa mencantumkan atribusi. Posisi ini mencerminkan kekhawatiran bahwa teknologi bisa menjadi saluran penggandaan konten tanpa menghargai sumber aslinya. Prinsip atribusi menjadi kunci agar ekosistem pengetahuan tetap sehat.

Dalam argumennya, Wikimedia menyebut pengambilan konten berhak cipta dapat dianggap fair use bila digunakan untuk melatih LLM yang menghasilkan karya baru. Wikipedia sendiri dikenal sebagai salah satu dataset berkualitas tertinggi untuk melatih model AI. Hal ini membuat posisi Wikimedia dalam sengketa tersebut kian relevan bagi masa depan industri AI generatif.

General Counsel Wikimedia Foundation, Stephen LaPorte, menegaskan bahwa putusan yang tidak menerapkan prinsip fair use secara hati-hati bisa mengancam keberlanjutan pengetahuan bebas. Menurutnya, keputusan semacam itu juga berpotensi mematikan perkembangan teknologi open source. Dampak akhirnya adalah terbatasnya akses informasi bagi semua orang, baik pada skenario yang terlalu ketat maupun terlalu longgar.

LaPorte juga menyoroti bahwa Wikipedia lahir dari proses kolaboratif yang membutuhkan fondasi pengetahuan manusia yang terbuka dan mudah diakses. "The court needs to understand that Wikipedia is created through a collaborative process that requires a strong foundation of open and accessible human knowledge to thrive," ujarnya dalam pernyataan resmi seperti dikutip dari sumber berita teknologi.

Pernyataan itu menegaskan bahwa kepentingan Wikimedia bukan sekadar soal perlindungan hak cipta, melainkan keberlangsungan ekosistem pengetahuan terbuka. Wikipedia bergantung pada ketersediaan sumber sekunder yang bisa dikutip dan diverifikasi. Jika web menjadi tertutup akibat putusan pengadilan, proses kolaboratif tersebut berisiko kehilangan bahan bakunya.

Perkara NYT versus OpenAI dan Microsoft kini menunggu putusan ringkasan atau summary judgment dalam waktu dekat. Perkara ini menjadi salah satu dari lebih dari selusin kasus serupa yang sedang berjalan di pengadilan. Hasilnya berpotensi menetapkan preseden penting bagi sengketa hak cipta AI lainnya di masa depan.

Gelombang gugatan memang terus menguat seiring masifnya penggunaan konten berhak cipta untuk pelatihan AI. Sebelumnya, Britannica Gugat OpenAI atas tuduhan pelanggaran hak cipta dan merek dagang. Sengketa serupa juga mencuat di sektor media, seperti dalam perkara CNN Gugat Perplexity AI.

Tekanan terhadap praktik pelatihan model juga datang dari ranah regulasi dan politik. Isu Regulasi AI di Amerika Serikat kian memanas seiring meningkatnya kekhawatiran soal transparansi data. Di sisi lain, sejumlah senator AS bahkan mendesak penutupan layanan AI tertentu karena tuduhan pelanggaran hak cipta.

Posisi Wikimedia yang berada di tengah dua kutub ekstrem menunjukkan bahwa persoalan ini tidak sederhana. Di satu sisi, inovasi AI membutuhkan akses terhadap data dalam skala besar. Di sisi lain, pencipta konten dan platform pengetahuan memiliki kepentingan sah untuk dilindungi. Keseimbangan antara keduanya menjadi taruhan dalam perkara ini.

Bagi industri, putusan pengadilan nanti akan menentukan seberapa bebas perusahaan AI memakai data publik untuk melatih model. Bila fair use diterapkan secara berlebihan, ekosistem web terbuka bisa tergerus. Sebaliknya, aturan yang terlalu restriktif berpotensi memperlambat laju inovasi teknologi di pasar global, termasuk di Indonesia.

Dengan posisinya sebagai salah satu dataset rujukan utama, Wikipedia punya kepentingan langsung terhadap arah putusan. Wikimedia menegaskan bahwa keberlanjutan pengetahuan bebas dan perkembangan open source harus berjalan seiring. Summary judgment dalam perkara ini pun dinantikan sebagai penentu arah kebijakan hak cipta AI berikutnya.

SHARE:

Meta Bikin Robot Humanoid untuk Bantu Pekerjaan Rumah, Ini Wujudnya

Data 11,7 Juta Pengguna Capcom Bocor