Bayangkan Anda sedang menyetir dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba harus melakukan manuver darurat. Tangan Anda berusaha memutar setir, tetapi yang Anda pegang bukan lingkaran penuh, melainkan bentuk seperti stir pesawat yang terpotong. Itulah realitas berkendara dengan yoke steering wheel, fitur kontroversial yang dipopulerkan Tesla. Kini, China, pasar mobil terbesar di dunia, resmi mengatakan "tidak". Larangan setir yoke yang akan berlaku mulai 2027 bukan sekadar aturan baru, melainkan tamparan keras bagi tren desain yang mengorbankan keselamatan demi gaya.
Langkah ini merupakan babak terbaru dalam ketegangan antara inovasi otomotif radikal dan regulasi keselamatan konservatif. China, yang menjadi medan pertempuran sengih bagi para produsen mobil listrik global, tiba-tiba mengambil peran sebagai penjaga gawang yang ketat. Hanya beberapa minggu setelah melarang pintu dengan flush door handles, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) kembali mengayunkan palu. Targetnya jelas: membatasi fitur-fitur yang dianggap meningkatkan risiko dalam situasi darurat. Keputusan ini berpotensi mengubah lanskap desain interior mobil, tidak hanya di China tetapi juga secara global, memaksa para OEM untuk memprioritaskan fungsi di atas bentuk.
Lantas, apa alasan mendetail di balik larangan ini, dan bagaimana dampaknya akan merambat ke pasar seperti Indonesia serta strategi merek-merek yang sedang gencar berekspansi? Mari kita selidiki analisis mendalam di balik keputusan monumental yang bisa mengakhiri era setir yoke.
Dibalik Larangan: Analisis Risiko Keselamatan yang Diungkap MIITLarangan China terhadap setir yoke bukanlah keputusan yang diambil secara gegabah. Berdasarkan laporan dari Autohome, MIIT mengajukan dua argumen teknis utama yang menjadi pilar regulasi baru ini. Pertama, adalah kekhawatiran terhadap kinerja sistem kemudi dan airbag saat terjadi tabrakan. Regulasi keselamatan China, GB 11557-2011, yang sudah sejalan dengan standar ketat PBB (UN R12), membatasi energi yang ditransfer dari setir ke pengemudi maksimal 11.110 Newton. Namun, aturan berusia 15 tahun itu dinilai memiliki celah yang memungkinkan pengecualian dalam "kondisi tertentu". Regulasi baru akan menutup celah ini, mewajibkan semua model kendaraan lulus uji tanpa pengecualian, sebuah tantangan besar bagi desain yoke yang strukturnya berbeda dari setir bundar.
Kedua, dan mungkin lebih mengkhawatirkan, adalah masalah efektivitas airbag. MIIT menyoroti bahwa airbag pada banyak desain yoke tidak mengembang sepenuhnya membentuk lingkaran sempurna. Bahkan jika mengembang, tidak adanya rim (bingkai) setir di bagian atas berarti tidak ada penyangga yang memadai untuk kantong udara yang sudah terbuka. Akibatnya, kepala pengemudi berisiko "meluncur" melewati airbag dan membentur kolom setir atau dasbor secara langsung. Dalam dunia keselamatan kendaraan, di mana hitungan milidetik dan milimeter bisa menentukan hidup-mati, kelemahan desain ini dianggap tidak dapat diterima.
Risiko ketiga yang lebih praktis adalah potongan yoke yang dapat menyangkut pakaian, jam tangan, gelang, atau perhiasan yang dikenakan di pergelangan tangan. Banyak desain yoke, termasuk milik Tesla, memiliki tonjolan atau "kait" di area tempat jempol bertumpu. Dalam situasi panik di mana pengemudi perlu memutar setir dengan cepat, tonjolan ini bisa menjadi jebakan yang berbahaya. Larangan China secara efektif menyatakan bahwa keselamatan tidak boleh dikompromikan untuk estetika futuristik atau pengalaman berkendara yang "berbeda".
Meskipun Tesla adalah pionir, larangan ini berdampak langsung pada produsen lain yang mengadopsi tren serupa. Contoh paling nyata adalah Lexus RZ450e, SUV listrik mewah yang dijual secara global. Di beberapa pasar, termasuk China, RZ450e ditawarkan dengan opsi setir yoke. Dengan aturan baru yang berlaku wajib per 1 Januari 2027, Lexus harus memutuskan: menghentikan penjualan varian yoke di China, atau lebih ekstrem lagi, menghentikan produksi global fitur tersebut karena ketidakpraktisan membuat varian khusus untuk satu pasar.
Bagi konsumen di Amerika Serikat atau Eropa yang mungkin menginginkan setir yoke, keputusan China ini bisa berarti mereka tidak akan pernah mendapatkannya. Ekonomi skala produksi menjadi pertimbangan utama. Mengembangkan, menguji, dan memproduksi dua jenis setir yang berbeda untuk model yang sama menjadi tidak efisien, terutama jika salah satu pasar terbesarnya melarangnya. Ini menunjukkan betapa kekuatan regulasi di satu pasar besar dapat membentuk tren global, sebuah fenomena yang juga terlihat dalam perpanjangan insentif EV yang mempengaruhi strategi produsen.
Larangan ini juga mengirimkan pesan kuat kepada seluruh industri. Inovasi, terutama yang menyangkut antarmuka pengemudi yang kritis seperti kemudi, harus melalui uji keselamatan yang lebih ketat dan holistik. Bukan tidak mungkin badan regulasi di wilayah lain, seperti ASEAN atau Uni Eropa, akan mulai mempertimbangkan evaluasi serupa. Ini menjadi pelajaran berharga bagi para pemain baru yang ingin masuk dengan desain radikal, seperti komitmen Vinfast bangun pabrik di Indonesia, untuk lebih berhati-hati dalam menerapkan fitur yang belum teruji secara universal.
Baca Juga:
Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai pasar berkembang yang sangat menjunjung tinggi regulasi keselamatan (seperti wajib uji Tipe dan SNI), keputusan China bisa menjadi preseden penting. Badan Pengatur seperti Kementerian Perhubungan dan Kementerian Perindustrian mungkin akan memperhatikan lebih saksama setiap fitur baru yang masuk, terutama dari merek-merek yang gencar berinovasi. Tren otomotif global sering kali sampai ke Indonesia dengan sedikit delay, dan larangan terhadap setir yoke di China bisa mencegah fitur ini bahkan sebelum sempat dipasarkan secara luas di sini.
Bagi merek China yang sedang agresif di Indonesia, seperti OMODA & JAECOO yang baru saja tembus 800.000 konsumen, keputusan dari negara asal mereka ini justru bisa menjadi keunggulan. Mereka dapat fokus pada pengembangan fitur keselamatan dan kenyamanan yang lebih konvensional namun terbukti, alih-alih mengikuti tren yang berisiko dan kini dipertanyakan. Hal ini sejalan dengan strategi mereka yang mencatat rekor penjualan global dengan proporsi listrik dan hybrid yang tinggi, membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus datang dari desain yang kontroversial.
Pada akhirnya, larangan setir yoke oleh China adalah pengingat bahwa dalam industri otomotif, keselamatan adalah harga mati. Inovasi desain yang mencoba mendobrak konvensi harus siap diuji dengan standar yang paling ketat. Ketika sebuah negara dengan kekuatan pasar dan regulasi sebesar China mengambil sikap, gelombangnya akan terasa hingga ke sudut-sudut paling jauh dari industri. Era dimana setir berbentuk pesawat terbang dianggap "keren" mungkin segera berakhir, digantikan oleh kesadaran bahwa di balik kemudi, yang paling penting adalah kepastian bahwa Anda dan penumpang akan selamat sampai tujuan.